A great WordPress.com site

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPERAWATAN KLINIK IV B

PEMERIKSAAN FISIK SISTEM SENSORI

 

 

MAKALAH

diajukan guna melengkapi tugas perkuliahan
Program Studi Ilmu Keperawatan

 

 

 

oleh

Rahma Yunita                       102310101034

Mafa Afnes Sukowati           102310101050

Iput Hardianti                       102310101096

 

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER

2012

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. Atas segala rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pemeriksaan Fisik Sistem Sensori”.Makalah ini disusun dalam rangka melengkapi tugas perkuliahan Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember.

Dalam penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:

  1. Ns. Ratna Sari Hardiani, M. Kep selaku Penanggung Jawab Mata Kuliah Keperawatan Klinik IV B yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengerjakan tugas makalah ini;
  2. Gigih Permana Kusuma P., Rona Gita Yanti, Roikhatul Jannah, dan Yudha Wahyu Jatmika, selaku Koordinator Mata KuliahKeperawatan Klinik IV B yang telah banyak membantu dalam memberikan informasi mengenai pengerjaan tugas ini;
  3. seluruh teman-teman angkatan 2010 yang telah banyak mendukung penulis.

Penulis juga menerima segala kritik dan saran sari smeua pihak demi kesempurnaan makalah ini.Akhirnya penulis berharap, semoga makalah ini dapat bermanfaat.

 

Jember, 10 Januari 2012                                                                      Penulis

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………….. ii

KATA PENGANTAR ……………………………………………………………………  iii

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………….. iv

BAB 1. PENDAHULUAN………………………………………………………………. 1

1.1  Latar Belakang………………………………………………………………. 1

1.2  Tujuan ………………………………………………………………………….. 1

1.3  Implikasi Keperawatan………………………………………………….. 2

BAB 2. TINJAUAN TEORI……………………………………………………………. 3

2.1  Pengertian……………………………………………………………………… 3

2.2  Jenis Pemeriksaan Fisik Sensori …………………………………….7

BAB 5. PENUTUP………………………………………………………………………… 27

              5.1 Kesimpulan…………………………………………………………………. 27

              5.2 Saran………………………………………………………………………….. 27

 

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………. 28

LAMPIRAN …………………………………………………………………………………  29

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 1. PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Gangguan persepsi sensori merupakan permasalahan yang sering ditemukan seiring dengan perubahan lingkungan yang terjadi secara cepat dan tidak terduga. Pertambahan usia, variasi penyakit, dan perubahan gaya hidup menjadi faktor penentu dalam penurunan sistem sensori. Seringkali gangguan sensori dikaitkan dengan gangguan persepsi karena persepsi merupakan hasil dari respon stimulus (sensori) yang diterima.

Persepsi merupakan respon dari reseptor sensoris terhadap stimulus eksternal, juga pengenalan dan pemahaman terhadap sensoris yang diinterpretasikan oleh stimulus yang diterima (Nasution, 2003). Persepsi juga melibatkan kognitif dan emosional terhadap interpretasi objek yang diterima organ sensori (indra).  Adanya gangguan persepsi mengindikasikan adanya gangguan proses sensori pada organ sensori, yaitu penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pengecapan. Untuk itu, perlu adanya pemeriksaan fisik sistem sensori untuk mengukur derajat gangguan sistem sensori tersebut.

Adanya makalah ini diharapkan pembaca bisa sedikit mengetahui berbagai macam dan teknik pemeriksaan sistem sensori. Dengan mengetahui pemeriksaan fisik sistem sensori diharapkan permasalahan yang muncul dari hasil pemeriksaan tersebut dapat teridentifikasi secara akurat sehingga dapat menentukan asuhan keperawatan yang berkualitas.

 

1.2  Tujuan

1.2.1        Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan makalah ini, yaitu untuk mengetahui berbagai macam dan teknik pemeriksaan fisik sistem sensori pada dewasa dan anak.

 

1.2.2        Tujuan Khusus

Tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.

  1. Untuk mengetahui definisi sistem sensori
  2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi sistem sensori
  3. Untuk mengetahui tanda dan gejala gangguan sistem sensori
  4. Untuk mengetahui definisi sistem sensori
  5. Untuk mengetahui bentuk perubahan sensori
  6. Untuk mengetahui tujuan pemeriksaan fisik sistem sensori
  7. Untuk mengetahui jenis pemeriksaan fisik sistem sensori beserta masalah yang ditemukan.

 

1.3  Implikasi Keperawatan

Peran perawat dalam melakukan pemeriksaan fisik pada sistem sensori disini yaitu sebagai care giver, educator, advokasi, konselor dan peneliti. Care giver disini perawat berperan sebagai pemberi asuhan keperawatan yang didasarkan pada hasil temuan masalah yang ditemukan pada pemeriksaan fisik sistem sensori. Perawat sebagai educator yaitu sebagai pendidik yang dapat mengajarkan pihak pasien  atau keluarga tentang penanganan masalah secara mandiri yang berfokus pada pemanfaatan potensi individu maupun keluarga untuk mencapai kualitas hidup yang optimal. Peran perawat sebagai advokasi yaitu perawat sebagai pelindung hak-hak pasien dari pihak-pihak yang dapat merugikan pasien. Konselor yaitu perawat memberikan konseling pada pihak keluarga atau pasien mengenai terapi maupun penyelesaian masalah gangguan sensori yang ditemui. Peran peneliti yaitu perawat dapat menemukan penanganan yang baik dan maksimal mengenai gangguan sistem sensori melalui penelitian sehingga dihasilkan kualitas asuhan yang optimal.


 

 

BAB 2. TINJAUAN TEORI

 

2.1 Pengertian

Sensori merupakan stimulus, baik secara internal maupun eksternal yang masuk melalui organ sensori berupa indra. Sistem sensori berperan penting dalam hantaran informasi ke sistem saraf pusat mengenai lingkungan sekitarnya (Wilson & Hartwig, 2002 dalam Price & Wilson, 2002). Sistem sensori lebih kompleks dari sistem motorik karena modal dari sensori memiliki perbedaan traktus, lokasi yang berbeda pada medulla spinalis (Smeltzer & Brenda, 1996) sehingga pengkajiannya dilakukan secara subyektif dan penguji dituntut untuk mengenali penyebaran saraf perifer dari medulla spinalis.

Pengkajian sistem sensori difokuskan pada bentuk subyektif dikarenakan sistem sensori memiliki hubungan erat dengan persepsi. Persepsi merupakan kemampuan mengidentifikasi sesuatu melalui proses mengamati, mengetahui, dan mengartikan stimulus yang diterima melalui indra. Untuk itu, data subyektif yang diterima berdasarkan persepsi individu dapat menentukan kenormalan dari sistem sensori tersebut. Adanya abnormalitas (penurunan/gangguan) sensori mengindikasikan gangguan neuropati perifer dan kerusakan otak akibat lesi yang luas sehingga menyebabkan hilangnya sensasi yang dapat mengganggu seluruh sisi tubuh.

Faktor-faktor yang mempengaruhi fungsi sensori

  1. Usia

a)      bayi memiliki jalur saraf yang belum matang sehingga tidak bisa membedakan stimulus sensori.

b)      Lansia mengalami perubahan degeneratif pada organ sensori dan fungsi persyarafan sehingga mengalami penurunan fungsi pada organ sensori, yaitu penurunan penglihatan, pendengaran, kesulitan persepsi, penurunan diskriminatif rasa dan sensitivitas bau, perubahan taktil, gangguan keseimbangan, dan disorientasi tempat dan waktu.

  1. Medikasi

a)      Beberapa antibiotik seperti streptomisin, gentamisin dapat merusak syaraf pendengaran.

b)      Kloramfenikol mengiritasi syaraf optik.

c)      Obat analgesik, narkotik, sedatif dan antidepresan dapat mengubah persepsi stimulus.

  1. Lingkungan

a)      Stimulus lingkungan yang terlalu ramai dan bising dapat membuat kebingungan, disorientasi dan tidak mampu mebuat keputusan.

b)      Stimulus lingkungan yang terisolasimengarah pada deprivasi sensori.

c)      Kualitas lingkungan yang buruk dapat memperparah kerusakan sensori.

  1. Tingkat kenyamanan

Nyeri dan kelelahan dapat merubah persepsi seseorang dan bagaimana dia bereaksi terhadap stimulus.

  1. Penyakit yang diderita

a)      Katarak menurunkan fungsi penglihatan.

b)      Infeksi telinga menurunkan fungsi pendengaran.

c)      Penyakit vascular perifer menyebabkan penurunan sensasi pada ekstrimitas dan kerusakan kognisi

d)     Penyakit diabetes kronik menurunkan penglihatan, kebutaan, maupun neuropati perifer

e)      Penyakit stroke menimbulkan penurunan kemampuan verbal, kerusakan fungsi motorik, dan penerimaan sensori.

  1. Merokok

Penggunaan tembakau mengakibatkan atrofi pada saraf pengecap sehingga menurunkan persepsi rasa.

  1. Tindakan medis

Intubasi endotrakea menyebabkan kehilangan berbicara sementara.

  1. Tingkat kebisingan

Paparan kostan pada tingkat kebisingan tinggi mengakibatkan penurunan pendengaran.

 

Tanda dan gejala seseorang yang mengalami gangguan sistem sensorik bermacam-macam tergantung dari saraf yang mengalami gangguan. Tanda dan gejala yang umum timbul antara lain:

  1. Tidak dapat merasakan dan membedakan berbagai macam sensasi yang diberikan pada tubuh.
  2. Munculnya tanda romberg yaitu mengalami ketidakseimbangan tubuh pada saat menutup mata.

 

Sedangkan beberapa bentuk perubahan sensori yang diketahui ada 3 jenis, yaitu deficit sensori, deprivasi sensori, dan beban sensori berlebih

  1. Defisit Sensori.

Adalah suatu kerusakan dalam fungsi normal penerimaan dan pesepsi sensori. Individu tidak mampu menerima stimulus tertentu (misalnya kebutaan atau tuli), atau stimulus menjadi distorsi (misalnya penglihatan kabur karena katarak). Kehilangan sensori secara tiba-tiba dapat menyebabkan ketakutan, marah, dan perasaan tidak berdaya.Pada awalnya individu bersikap menarik diri dengan menghindari komunikasi atau sosialisasi dengan orang lain dalam suatu usaha untuk mengatasi kehilangan sensori. Klien yang mengalami deficit sensori dapat mengubah perilaku dalam cara-cara yang adaptif atau maladaptif

2. Deprivasi Sensori.

Sistem pengaktivasi reticular dalam batang otak menyebabkan semua stimulus sensori ke korteks serebral, sehingga meskipun saat tidur yang nyenyak, klien mampu menerima stimulus. Jika seseorang mengalami suatu stimulasi yang tidal adekuat kualitas dan kuantitasnya seperti stimulus yang monoton atau tidakl bermakna maka akan terjadi deprivasi sensori. Tiga jenis deprivasi sensori adalah kurangnya input sensori (karena kehilangan penglihatan dan pendengaran ), Eliminasi perintah atau makna dari input ( misal terpapar pada lingkungan asing ) dan Restriksi dari lingkungan ( misalnya tirah baring atau berkuranya variasi lingkungan ) yang menyebabkan monoton dan kebosanan.

 

 

Efek dari deprivasi sensori adalah :

  1. Kognitif
    Penurunan kapasitas belajar, ketidakmampuan berpikir atau menyelesaikan masalah, penampilan tugas buruk, disorientasi, berpikir aneh, regresi.
  2. Afektif.
    Kebosanan, kelelahan, peningkatan kecemasan, kelabilan emosi, dan peningkatan kebutuhan untuk stimulasi fisik.
  3. Persepsi.
    Disorganisasi persepsi terjadi pada koordinasi visual, motorik, persepsi warna, pergerakan nyata, keakuratan taktil, kemampuan untuk mempersepsikan ukiran dan bentuk, penilaian mengenai ruang dan waktu.
  4. Beban Sensori yang berlebihan

Adalah suatu kondisi dimana individu menerima banyak stimulus sensori dan tidak dapat secara perceptual tidak menghiraukan beberapa stimulus. Pada kondisi ini dapat mencegah otak untuk berespon secara tepat atau mengabaikan stimulus tertentu. Sehingga individu tidak lagi mempersepsikan lingkungan secara rasional. Kelebihan sensori mencegah respon yang bermakna oleh otak, menyebabkan respon yang berpacu, perhatian bergerak pada banyak arah dan menjadi lelah.
Kelebihan sensori adalah individual, karena jumlah stimulus yang dibutuhkan untuk berfungsi sehat bervariasi. Toleransi seseorang pada bebab sensori yang berlebihan dapat bervariasi oleh tingkat kelelahan, sikap, dan kesehatan emodional dan fisik. Perubahan perilaku yang berhubungan dengan beban sensori yang berlebihan dapat dengan mudah menjadi bingung atau disorientasi sederhana.

 

 

 

 

Pemeriksaan fisik pada sistem sensori berfokus pada fungsi neurologisnya klasifikasi dari pemeriksaan fisik sistem sensori didasarkan pada organ sensori berupa sistem  indra. Sistem indra yang dikenal berupa pancaindra, yaitu:

  1. Indra penglihatan (visual)
  2. Indra pendengaran (auditori)
  3. Indra perabaan (taktil)
  4. Indra penciuman (olfaktori)
  5. Indra pengecap (gustatory)

 

Adanya pemeriksaan fisik sistem sensori bertujuan sebagai berikut.

  1. Menentukan derajat gangguan sensori dalam hubungannya dengan gangguan gerak
  2. Sebagai acuan untuk re-edukasi sensori
  3. Mencegah terjadinya komplikasi sekunder
  4. Menyusun sasaran dan rencana terapi (Pudjiastuti & Utomo, 2002)

 

 

1.2    Jenis Pemeriksaan Fisik Sensori

Pemeriksaan sistem sensori dilakukan dengan memeriksa kondisi kelima sistem indra yaitu penglihatan, pendengaran, pembau, pengecap, dan peraba.

 

1.2.1        Pemeriksaan Fisik Indra Penglihatan

Pemeriksaan fisik mata dapat dilakukan dengan beberapa cara. Berikut ini akan dijelaskan cara melakukan pemeriksaan mata yaitu:

  1. Pemeriksaan ketajaman penglihatan (pemeriksaaan visus)

Mata merupakan organ tubuh yang berfungsi sebagai indera penglihatan sehingga pemeriksaan ketajaman mata sangat penting untuk bisa mengetahui fungsi mata. Pemeriksaan ketajaman mata dilakukan paling awal sebelum melakukan pemeriksaan mata lebih lanjut.

Ketajaman penglihatan dituliskan dalam rasio perbandingan jarak penglihatan normal seseorang dengan jarak penglihatan yang dapat dilihat oleh orang seseorang. Misalnya ketajaman penglihatan 20/30 yang berarti seseorang dapat melihat dengan jarak 20 kaki sedangkan pada penglihatan normal dapat dilihat dengan jarak 30 kaki. Orang dengan mata normal memiliki nilai ketajaman mata 20/20.

  1. Alat:

1)      Kartu Snellen

2)      Lampu senter

3)      Karton untuk menutup mata

  1. Indikasi: pada pasien yang diduga mengalami gangguan sensori.
  2. Kontraindikasi: -
  3. Cara:

1)        Pemeriksaan menggunakan kartu snellen standar

Cara melakukan pemeriksaan ketajaman penglihatan menggunakan kartu snellen ini yaitu:

  1. Pasien berdiri sejauh 6 meter (20 kaki) dari kartu snellen.
  2. Minta pasien untuk menutup salah satu mata dengan karton.
  3. Minta pasien untuk membaca huruf yang ada pada kartu sampai pasien tidak dapat membaca lagi huruf tersebut.

2)      Menilai pasien dengan penglihatan buruk

Jika pasien tidak dapat membaca huruf yang ada pada kartu snellen, maka pasien harus diperiksa menggunakan kemampuan membaca jari tangan. Cara pemeriksaan menggunakan kemampuan membaca jari tangan yaitu:

  1. Tutup salah satu mata pasien.
  2. Perawat berdiri di depan pasien dengan menunjukkan angka pada jari perawat.
  3. Jika pasien tidak dapat melihat jari perawat maka dilakukan pemeriksaan menggunakan cahaya.

Namun seringkali pemeriksaan sistem penglihatan menghadapi kendala pada pasien anak-anak, orang dengan gangguan mental, dan orang yang berpura-pura tidak melihat karena pemeriksaan ini berfokus pada subyektif,yaitu interpretasi dari respon yang dirasakan pasien. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan suatu teknik pemeriksaan yang berfokus pada objektif dan memiliki korelasi dengan daya penglihatannya melalui alat yang disebut nystagmometer.

Gambar: Kartu Snellen

            Nystagmometer merupakan alat pemeriksaan visus secara objektif yang disasarkan pada gejala faal yang dikenal dengan nama “pursuit eye movement”, yaitu bahwa mata seseorang akan bergerak mengikuti suatu benda yang menjadi perhatiannya, apabila benda tersebut bergerak (Sarwono: 1982). Peristiwa tersebut disebut sebagai optokinetik nystagmus. Intinya, seseorang akan mengikuyi objek penyebab nystagmug-nya tersebut. Semakin kecil objek yang dapat menimbulkan gerakan bola mata akibat mata yang mengikuti gerakan objek tersebut, semakin baik daya penglihatan orang tersebut.

Kelainan pada mata:

  1. Astigmatis

Astigmatis atau yang sering dikenal dengan mata silindris merupakan suatu kelainan mata yang menyebabkan mata penderitanya menjadi kabur. Gangguan ini terjadi akibat penderita tidak dapat melihat garis horizontal dan vertical secara bersamaan. Kornea pada penderita astigmatis berbentuk abnormal. Kornea normal berbentuk bulat seperti bola, tetapi pada gangguan ini kornea mata memiliki lengkungan yang terlalu besar pada salah satu sisinya. Cara menangani astigmatis ini adalah dengan menggunakan kacamata silinder atau lensa kontak.

 

 

  1. Miopi

Miopi atau rabun jauh merupakan kelainan mata yang menyebabkan penderitanya tidak dapat melihat dalam jarak jauh. Penyebab dari miopi adalah bola mata yang terlalu panjang dan bayangan benda yang jatuh di depan bintik kuning. Cara menangani miopi yaitu dengan menggunakan kacamata cekung (negative).

  1. Hipermetropi

Hipermetropi atau rabun dekat merupakan gangguan pada mata yang ditandai dengan penderita tidak dapat melihat dengan jelas dalam jarak dekat. Penyebab dari hipermetropi ini yaitu adanya kelainan bola mata yang terlalu pendek dan bayangan jatuh di belakang bintik kuning. Cara menangani gangguan ini adalah dengan memakai kacamata lensa cembung (positif).

  1. Presbiopi

Presbiopi atau rabun dekat dan jauh merupakan gangguan mata yang ditandai dengan penderita tidak dapat melihat dalam jarak dekat dan jauh. Penyebab dari gangguan ini adalah semakin berkurangnya daya akomodasi dari mata. Cara mengatasi gangguan ini adalah dengan memakai kacamata berlensa rangkap (atas negative, bawah positif).

  1. Rabun senja

Gangguan ini ditandai dengan penderitanya tidak dapat melihat dengan baik saat malam hari atau kurang cahaya. Penyebab dari gangguan ini adalah kurangnya vitamin A. cara mencegah dan mengatasi masalah ini adalah dengan mengkonsumsi makanan kaya vitamin A.

  1. Keratomalasi

Gangguan ini ditandai dengan kornea mata yang keruh yang penyebabnya kekurangan vitamin A yang sangat parah sehingga penyakit ini merupakan tingkat lanjut dari rabun senja. Apabila hal ini tidak segera diatasi akan menyebabkan kebutaan.

 

 

 

  1. Katarak

Kelainan pada lensa mata karena lensa mata menjadi kabur dan keruh yang menyebabkan cahaya yang masuk tidak dapat mencapai retina. Katarak dapat diatasi dengan cara operasi.

  1. Juling

Kelainan ini sebagai akibat  ketidakserasian kerja otot penggerak bola mata kanan dan kiri. Penyakit ini bisa diatasi dengan cara operasi pada otot mata.

  1. Glaukoma

Gangguan ini ditandai dengan peningkatan tekanan di dalam bola mata karena danya sumbatan pada saluran di dalam bola mata dan pembentukan cairan berlebih dalam bola mata. Gangguan ini bisa diatasi dengan cara pembedahan atau obat-obatan yang diminum seumur hidup.

  1. Buta Warna

Penderita umumnya tidak dapat membedakan warna tertentu misal hijau dan biru. Penyakit ini merupakan penyakit keturunan yang tidak dapat disembuhkan akan tetapi ada juga penyebab lainnya misalkan saja karena kecelakaan atau trauma pada mata.

 

  1. Pemeriksaan lapangan pandangan

Cara yang paling mudah dalam melakukan pemeriksaan lapangan pandangan adalah menggunakan metode uji telunjuk.

  1. Indikasi: pasien yang diduga mengalami gangguan sensori.
  2. Kontraindikasi: -
  3. Cara:

1)      Pasien dan perawat duduk berhadapan.

2)      Minta pasien untuk menutup salah satu matanya.

3)        Perawat juga ikut menutup salah satu matanya. Misalnya jika pasien menutup mata kirinya, maka perawat menutu mata kanannya.

4)        Minta pasien memandang hidung perawat.

5)        Minta pasien menghitung jumlah jari yang ada pada bagian superior dan inferior lirikan temporal dan nasal.

  1. Pemeriksaan buta warna (tes isihara)

Salah satu gangguan mata yang bersifat herediter, yaitu buta warna. Buta warna merupakan penglihatan warna-warna yang tidak sempurna, seringkali disebut sebagai cacat penglihatan warna. Cacat penglihatan warna bersifat didapat, terkadang merupakan gejala dini kerusakan mata. Untuk mengetahui adanya cacat penglihatan mata perlu dilakukan tes isihara.

Tes isihara merupakan gambar-gambar pseudoisokromatik yang disusun oleh titik dan kepadatan warna yang berbeda, berasal dari warna primer yang didasarkan warna yang hamper sama. Titik-titik warna tersebut disusun dengan bentuk dan pola tertentu tanpa adanya kelainan persepsi warna.

  1. Alat dan bahan:

Gambar pseudoisokromatik

b. Teknik:

  1. Kartu isihara diletakkan di tempat dengan penerangan baik
  2. Pasien diminta menyebutkan gambar atau angka pada kartu tersebut dalam 10 detik

c. Penilaian

Bila lebih dari 10 detik berarti terdapat kelainan penglihatan warna buta warna merah hijau terdapat atrofi saraf optik, buta warna biru kuning terdapat pada retinopati hipertensif, retinopati diabetic dan degenerasi macula senile dini. Degenerasi pada macula stargardts dan fundus lamikulatus memberikan gangguan penglihatan warna merah-hijau.

d.Petunjuk Pengisian Gambar

No 1 : semua orang baik normal atau buta warna dapat membaca dengan benar angka 12. Bagian ini biasanya digunakan pada awal test.

No 2 : pada orang normal terbaca “8” dengan defisiensi merah-hijau “3”.

No 3 : pada orang normal terbaca “5” dengan defisiensi merah-hijau “2”.

No 4 : pada orang normal terbaca “29” dengan defisiensi merah-hijau “70”.

No 5 : pada orang normal terbaca “74” dengan defisiensi merah-hijau “21”.

No 6-7 : pada orang normal dapat membaca dengan benar tetapi pada orang dengan defisiensi merah hijau, susah atau tidak dapat membacanya.

No 8 : pada orang normal dengan jelas “2” tetapi bagi defisiensi merah-hijau tidak jelas.

No 9 : pada orang normal susah atau tidak terbaca tetapi kebanyakan pada orang dengan defisiensi merah hijau melihat “2”.

No 10 : pada orang normal angka terbaca “16” tetapi bagi defisiensi merah hijau tidak dapat membaca.

No 11 : gambar garis yang melilit diantara 2 xs. Pada orang normal, dapat mengikuti garis ungu-hijau. Tetapi pada orang buta warna tidak dapat mengikuti atau dapat mengikuti tapi berbeda dengan orang normal.

No 12 : pada orang normal dan defesiensi merah hijau melihat angka “35” tetapi pada protanopia dan protanomali berat hanya dapat membaca angka “5” dan pada deuteranopia dan deuteranopia berat terbaca angka “3”.

No 13 : pada orang normal dan defesiensi merah hijau ringan melihat angka “96” tetapi pada protonopia dan protonopia berat hanya terbaca “6”.

No 14 : pada orang normal dapat mengikuti garis yang melilit 2 xs, ungu dan merah; pada protanopia dan protanomali berat hanya mengikuti garis ungu dan pada protanomali ringan kedua garis diikuti tetapi garis ungu kurang terlihat untuk diikuti; pada deuteranopia dan deuteranomalia berat hanya garis merah yang diikuti; pada deuteranomalia ringan kedua garis dapat diikuti tetapi garis merah kurang terlihat untuk diikuti.

Gambar: ishihara test

 

3.2.2        Pemeriksaan Fisik Indra Pendengaran

Sama halnya dengan pemeriksaan mata, dalam melakukan pemeriksaan telinga juga dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:

  1. Tes ketajaman auditorius

Tes ini akan dapat mengetahui kemampuan pasien dalam mendengarkan bisikan kata(voice test) atau detakan jam tangan.

  1. Alat: bel kecil
  2. Indikasi: dapat dilakukan pada semua usia yang diduga mengalami gangguan  sensori.
  3. Kontraindikasi: -
  4. Cara:

1)Bayi:

a)      Perawat berdiri di belakang anak.

b)      Bunyikan sebuah bel kecil, bunyikan jari-jari atau tepuk tangan.

c)      Hasilnya: pada bayi yang kurang dari 4 bulan menunjukkan reflek terkejut. Bayi yang berusia 6 bulan/lebih mencoba mencari suara dengan menggerakkan mata atau kepala mereka.

2)Anak usia prasekolah:

a)      Perawat berdiri 0,6 sampai 0,9 meter di depan anak.

b)      Berikan instruksi tertentu pada anak.

c)      Hasil: anak dengan pendengaran normal akan melakukan instruksi.

3)Anak usia sekolah

a)      Berdiri kira-kira 0,3 m di belakang anak.

b)      Perintahkan anak untuk menutup telinganya.

c)      Bisikkan angka pada anak.

d)     Perintahkan anak untuk menirukan angka yang dibisikkan.

e)      Lakukan pada telinga lainnya.

 

  1. Uji garputala

2.1  Uji weber

  1. Alat: garputala.
  2. Tujuan: untuk membedakan tuli konduktif dan tuli sensorineural.
  3. Indikasi: bisa digunakan pada anak-anak dan dewasa.
  4. Kontraindikasi: -
  5. Cara:

1)Pukulkan garputala pada telapak tangan.

2)Letakkan garputalapada garis tengah kepala pasien.

3)Tanyakan pada pasien letak suara yang terdengar paling keras.

  1. Hasil: pada pasien sensorineural, suara terdengar pada telinga yang tidak terganggu. Ssedangkan pada tuli konduktif, suara terdengar lebih jelas pada telinga yang terganggu.

 

Gambar: tes weber

 

2.2  Uji rinne

  1. Alat: garputala.
  2. Tujuan: untuk membandingkan hantaran udara dan tulang.
  3. Indikasi: dapat dilakukan pada anak dan dewasa.
  4. Kontraindikasi:
  5. Cara:

1)Pukulkan garputala pada telapak tangan.

2)Letakkan batang garputala ke tulang mastoideus pasien.

3)Ketika pasien menunjukkan bahwa suara tidak terdengar lagi, dekatkan gigi garputala ke meatus eksternus salah satu telinga.

4)Lakukan cara yang sama pada telinga lainnya.

Gambar: rinne test

2.3  uji Scwabach

  1. Alat: garputala.
  2. Tujuan: untuk membandingkan hantaran bunyi dari 2 subyek.
  3. Indikasi: dapat dilakukan pada anak dan dewasa.
  4. Kontraindikasi: -
  5. Cara:
    1. Getarkan garputala yang dipegang
    2. Letakkan ujung garputalapada lubang telinga pasien
    3. Ketika pasien menunjukkan bahwa suara tidak terdengar lagi,
    4. Lakukan cara yang sama pada telinga subyek kedua atau pemeriksa
    5. Bandingkan hasilnya dari kedua subyek tersebut
    6. Hasil:

1)Normal: anak akan mendengar suara garputala di meatus eksternus setelah tidak terdengar di prosesus mastoideus dan suara dapat terdengar sama baiknya.

2)Abnormal: pada kehilangan pendengaran sensorineural memungkinkan suara yang dihantarkan lewat udara lebih baik dari pada lewat tulang dan segala suara diterima seperti sangat jauh dan lemah.

 

3.2.3        Pemeriksaan Fisik Pengecap.

Pada hakekatnya, lidah mempunyai hubungan erat dengan indera khusus pengecap. Zat yang memberikan impuls pengecap mencapai sel reseptor lewat pori pengecapan. Ada empat kelompok pengecap atau rasa yaitu manis, asin, asam, dan pahit.

Gangguan indera pengecap biasanya disebabkan oleh keadaan yang mengganggu tastants atau zat yang memberikan impuls pengecap pada sel reseptor dalam taste bud (gangguan transportasi) yang menimbulkan cedera sel reseptor (gangguan sensorik) atau yang merusak serabut saraf aferen gustatorius serta lintasan saraf sentral gustatorius (gangguan neuron).

Manifestasi klinis dari indera pengecap apabila dilihat dari sudut pandang psikofisis, gangguan pada indera pengecap dapat digolongkan menurut keluhan pasien atau menurut hasil pemeriksaan sensorik yang objektif missal sebagai berikut.

  1. Ageusia total adalah ketidakmampuan untuk mengenali rasa manis, asin, pahit, dan asam.
  2. Ageusia parsial adalah kemampuan mengenali sebagian rasa saja.
  3. Ageusia spesifik adalah ketidakmampuan untuk mengenali kualitas rasa pada zat tertentu.
  4. Hipogeusia total adalah penurunan sensitivitas terhadap semua zat pencetus rasa.
  5. Hipogeusia parsial adalah penurunan sensitivitas terhadap sebagian pencetus rasa.
  6. Disgeusia adalah kelainan yang menyebabkan persepsi yang salah ketika merasakan zat pencetus rasa.

Pasien dengan keluhan hilangnya rasa bisa dievaluasi secara psikofisis untuk fungsi gustatorik selain menilai fungsi olfaktorius. Langkah pertama melakukan tes rasa seluruh mulut untuk kualitas, intensitas, dan persepsi kenyamanan dengan sukrosa, asam sitrat, kafein, dan natrium klorida. Tes rasa listrik (elektrogustometri) digunakan secara klinis untuk mengidentifikasi defisit rasa pada kuadran spesifik dari lidah. Biopsi papilla foliate atau fungiformis untuk pemeriksaan histopatologik dari kuncup rasa masih eksperimental akan tetapi cukup menjanjikan mengetahui adanya gangguan rasa.

3.2.4        Pemeriksaan Fisik Peraba.

Pemeriksaan fisik indra perabaan didasarkan pada sensibilitas. Pemeriksaan fisik sensori indra perabaan (taktil)  terbagi atas 2 jenis, yaitu basic sensory modalities dan testing higher integrative functions. Basic sensory modalities (pemeriksaan sensori primer) berupa uji sensasi nyeri dan sentuhan, uji sensasi suhu, uji sensasi taktil, uji propiosepsi (sensasi letak), uji sensasi getar (pallestesia), dan uji sensasi tekanan. Sedangkan testing higher integrative functions (uji fungsi integratif tertinggi) berupa stereognosis, diskriminasi 2 titik, persepsi figure kulit (grafitesia), ekstinksi, dan lokalisasi titik.

Sensasi raba dihantarkan oleh  traktus spinotalamikus ventralis. Sedangkan sensasi nyeri dan suhu dihantarkan oleh serabut saraf menuju ganglia radiks dorsalis dan kemudian serabut saraf akan menyilang garis tengah dan akan masuk menuju traktus spinotalamikus lateralis kontralateral yang akan berakhir di talamus sebelum dihantarkan ke korteks sensorik dan diinterpretasi.  Adanya lesi pada traktus-traktus tersebutlah yang dapat menyebabkan gangguan sensorik tubuh.

 

  1. Basic sensory modalities(pemeriksaan sensori primer)
    1. Uji sensasi nyeri dan sentuhan

Uji sensasi nyeri dan sentuhan terbagi menjadi 2 macam, yaitu nyeri superficial (tajam-tumpul) dan nyeri tekan.

1)      Nyeri superficial

Merupakan metode uji sensasi dengan menggunakan benda yang memiliki 2 ujung, yaitu tajam dan tumpul. Benda tersebut dapat berupa peniti terbuka maupun jarum pada reflek hammer. Pasien dalam keadaan mata terpejam saat dilakukan uji ini dan dilakukan pengkajian respon melalui pertanyaan “apa yang anda rasakan?” dan membandingkan sensasi 2 stimulus yang diberikan. Apabila terjadi keraguan respon maupun kesulitandan ketidakmampuan  dalam membedakan sensasi, maka hal ini mengindikasikan adanya deficit hemisensori berupa analgesia, hipalgesia, maupun hiperalgesia pada sensasi nyeri. Sedangkan gangguan pada sensasi sentuhan berupa anestesia dan hiperestesia.

2)      Nyeri tekan

Merupakan metode uji sensori dengan mengkaji nyeri melalui penekanan pada tendon dan titik saraf. Metode ini sering digunakan dalam uji sensori protopatik (nyeri superficial, suhu, dan raba) dan uji propioseptik (tekanan, getar, posisi, nyeri tekan). Misalnya, berdasarkan Abadie sign pada daerah dorsalis, tekanan ringan yang diberikan pada tendon Achilles normalnya adalah ‘hilang’. Dengan kata lain tidak dapat dirasakan sensasi nyeri bila diberikan tekanan ringan pada tendon Achilles.

  1. Uji sensasi suhu

Uji sensasi suhu pada dasarnya lebih direkomendasikan apabila pasien terindikasi gangguan sensasi nyeri. Hal ini dikarenakan pathways dari indra nyeri dan suhu saling berbuhungan. Metode ini menggunakan gelas tabung yang berisi air panas dan dingin. Pasien diminta untuk membedakan sensasi suhu yang dirasakan tersebut. Apabila pasien tidak dapat membedakan sensasi,maka pasien dapat diindikasikan mengalami kehilangan “slove and stocking” (termasuk dalam gangguan neuropati perifer).

  1. Uji sensasi taktil

Uji sensasi taktil dilakukan dengan menggunakan sehelai dawai (senar) steril atau dapat juga dengan menggunakan bola kapas.  Pasien yang dalam keadaan mata terpejam akan diminta menentukan area tubuh yang diberi rangsangan dengan memberikan hapusan bola kapas pada permukaan tubuh bagian proksimal dan distal. Perbandingan sensitivitas dari tubuh proksimal dan distal akan menjadi tolak ukur dalam menentukan adanya gangguan sensori. Indikasi dari gangguan sensori pada uji sensasi taktil ini berupa hyperestetis, anastetis, dan hipestetik.

  1. Uji propiosepsi (sensasi letak)

Uji ini dilakukan dengan menggenggam sisi jari pada kedua tungkai yang disejajarkan dan menggerakkannya ke arah gerakan jari. Namun yang perlu diperhatikan adalah menghindari menggenggam ujung dan pangkal jari atau menyentuh jari yang berdekatan karena lokasi sensasinya mudah ditebak (memberikan isyarat sentuh).  Pasien yang dalam keadaan mata terpejam diminta untuk menentukan lokasi jari yang digerakkan.

Selain itu, uji ini juga dapat dilakukan dengan menguji posisi sensasi di sendi metakarpalia palangeal untuk telapak kaki besar. Orang muda normal memiliki derajat diskriminasi sebesar 1 sampai 2 derajat untuk gerakan sendi distal jari dan 3 sampai 5 derajat untuk kaki besar.

  1. Uji sensasi vibrasi (pallestesia)

Uji sensasi vibrasi  dilakukan menggunakan garpu tala frekuensi rendah (128 atau 256 Hertz) yang diletakkan pada bagian tulang yang menonjol pada tubuh pasien. Kemudian pasien diminta untuk merasakan sensasi yang ada dengan memberikan tanda bahwa ia dapat merasakan sensasi getaran. Apabila pasien masih tidak bisa merasakan sensasi getaran, maka perawat menaikkan frekuensi garputala sampai pasien dapat merasakan sensasi getaran tersebut. Pasien muda dapat merasakan getaran selama 15 detik di ibu jari kaki dan 25 deti di sendi distal jari. Sedangkan pasien usia 70 tahun-an merasakan sensasi getaran masing-masing selama 10 detik dan 15 detik.

  1. Uji sensasi tekanan

Uji sensasi tekanan menerapkan kemampuan pasien dalam membedakan tekanan dar sebuah objek pada ujung jari. Uji ini dilakukan dengan cara menekan aspek tulang sendi dan subkutan untuk mempersepsikan tekanan. Rekomendasi untuk uji tekanan ini diutamakan pada penderita diabetes dan dilakukan minimal sekali setahun.

  1. Testing higher integrative functions(uji fungsi integratif tertinggi)
    1. Stereognosis

Stereognosis merupakan kemampuan untuk mengenali objek dengan perasaan. Uji ini merupakan identifikasi benda yang dikenal dan diletakkan di atas tangan pasien sehingga pasien dapat mengidentifikasi benda yang berada di tangannya. Adanya kesulitan identifikasi benda (gangguan stereognosis) mengindikasikan adanya lesi pada kolumna posterior atau korteks sensori.

  1. Diskriminasi 2 titik

Diskriminasi 2 titik merupakan metode identifikasi sensasi 2 titk dari penekanan 2 titik pin yang berada pada permukaan kulit. Uji ini terus dilakukan berulang hingga pasien tidak dapat mengidentifikasi sensasi 2 titik yang terpisah. Lokasi yang sering digunakan untuk uji ini adalah ujung jari, lengan atas, paha, dan punggung. Adanya gangguan identifikasi 2 titik mengindikasikan adanya lesi pada kolumna posterior atau korteks sensori.

  1. Identifikasi angka (grafitesia)

Grafitesia merupakan metode penggambaran angka di mana nantinya pasien diminta untuk mengidentifikasi angka yang tergambar pada telapak tangan. Metode grafitesia dapat menggunakan ujung tumpul pulpen sebagai media stimuli. Kesulitan pada identifikasi angka menunjukkan adanya glesi pada kolumna posterior atau korteks sensori.

  1. Ekstinksi

Ekstinksi merupakan salah satu uji sensori yang menggunakan metode sentuhan pada kedua sisi tubuh. Uji ini dilakukan pada saat yang sama dan lokasi yang sama pada kedua sisi tubuh, misalnya lengan bawah pada kanan dan kiri lengan. Apabila pasien tidak bisa menggambarkan jumlah titik lokasi sentuhan (biasanya psien hanya merasakan satu sensasi), maka dapat dipastikan pasien teridentifikasi adanya lesi sensoris.

  1.  Lokalisasi titik

Lokalisasi titik merupakan metode didentifikasi letak lokasi sensasi stimulus. Metode ini dilakukan dengan cara memberikan sensasi sentuhan ringan pada permukaan kulit dan meminta pasien untuk menyebutkan atau menunjukkan letak sensasi yang dirasakan. Adanya penurunan sensasi sensori dibuktikan dengan adanya ketidak-akuratan identifikasi lokalisasi. Hal ini disebabkan adanya lesi pada korteks sensori sehingga terjadi penurunan maupun hilangnya sensasi sentuhan pada sisi tersebut.

 

2.2.5 pemeriksaan Fisik Indra Penciuman

Indra penciuman merupakan penentu dalam identifikasi aroma dan cita rasa makanan-minuman yang dihubungkan oleh saraf trigeminus sebagai pemantau zat kimia yang terhirup. Indra penciuman dianggap salah satu sistem kemosensorik karena sebagian besar zat kimia menghasilkan persepsi olfaktorius, trigeminus, dan pengecapan. Hal ini dikarenakan sensasi kualitatif penciuman ditangkap neuroepitelium olfaktorius sehingga menimbulkan sensibilitas somatic berupa rasa dingin, hangat, dan iritasi melalui serabut saraf aferen trigeminus, glosofaringeus, dan vagus dalam hidung, kavum oris, lidah, faring, dan laring.

Adanya gangguan penciuman (osmia) dapat diakibatkan oleh proses patologis sepanjang olfaktorius yang hampir serupa dengan gangguan pendengaran berupa defek konduktif maupun defek sensorineural. Defek konduktif (transport) terjadi akibat adanya gangguan transisi stimulus  bau menuju neuroepitel, sedangkan defek sensorineural cenderung melibatkan struktur saraf yang lebih sentral. Namun penyebab utama dari gangguan penciuman, yaitu penyakit rongga hidung maupun sinus, sebelum terjadi infeksi saluran nafas atas, dan trauma kepala (Kris, 2006).

Gangguan penciuman (osmia) memiliki sifat total (seluruh bau), parsial (sejumlah bau), atau spesifik (satu atau sejumlah kecil bau). Jenis-jenis gangguan penciuman, yaitu:

  1. Anosmia merupakan ketidak-mampuan mendeteksi bau
  2. Hiposmia merupakan penurunan kemampuan mendeteksi bau
  3. Disosmia merupakan distorsi identifikasi bau (tidak bisa membedakan bau)
  4. Parosmia merupakan perubahan persepsi pembauan
  5. Phantosmia merupakan persepsi bau tanpa adanya sumber bau
  6. Agnosia merupakan ketidakmampuan menyebutkan maupun membedakan bau, meski pasien dapat mendeteksi bau.

 

Etiologi dari gangguan penciuman adalah sebagai berikut.

  1. Defek konduktif
    1. Proses inflamasi

Proses inflamasi  dapat menyebabkan gangguan pembauan akibat rintitis dan sinus kronik. Rintitis dan sinus kronik mengakibatkan inflamasi mukosa nasal sehingga terjadi abnormalitas sekresi mucus. Sekreai mucus yang berlebihan mengakibatkan silia olfaktorius tertutup mucus sehingga sensitivitas olfaktorius menurun/menghilang.

  1. Massa/tumor

Adanya massa pada rongga hidung mengakibatkan perubahan structural dalam kavum nasi berupa polip, neoplasma, maupun deviasi septum nasi sehingga dapat menghalangi aliran odoran (zat yang menimbulkan bau) ke epitel olfaktorius.

  1. Abnormalitas developmental

Amnormalitas developmental dapat berupa ensefalokel maupun kista dermoid yang mengakibatkan obstruksi pada roingga hidung sehingga menghalangi aliran odoran ke epitel olfaktori.

 

  1. Defek sensorineural
    1. Proses inflamasi

Proses inflamasi dapat diakibatkan infeksi virus yang merusak neuroepitel, sarkoidosis yang mempengaruhi struktur saraf, maupun sklerosis multiple. Inflamasi ini berakibat pada destruksi neuroepitelium olfaktorius yang dapat mengganggu transmisi sinyal (stimulus odoran) ke epitel olfaktorius.

  1. Penyebab congenital

Congenital dapat menjadi faktor penentu gangguan penciuman. Hal ini dikarenakan kelainan yang bersifat congenital berakibat pada hilangnya struktur saraf. Misalnya, Kallman syndrome mengakibatkan anosmia akibat gagalnya ontogenesis struktur olfaktorius dan hipogonadisme hipogonadotropik.

  1. Gangguan endokrin

Gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, hipotiroidisme, maupun hipoadrenalisme dapat mempengaruhi fungsi pembauan berupa gangguan persepsi bau.

  1. Trauma kepala

Trauma kepala pada basis fossa kranii anterior atau lamina kribiformis maupun akibat proses pembedahan kepala atau saraf  dapat menyebabkan regangan, kerusakan, maupun terputusnya fila olfaktori halus sehingga menyebabkan anosmia.

 

 

 

  1. Toksisitas obat sistemik

Obat-obatan yang dapat mengubah sensitivitas bau yaitu obat neurotoksik (etanol, amfetamin, kokain tropical, aminoglikosida, tetrasiklin, asap rokok).

  1. Defisiensi gizi

Defisiensi gizi berupa vitamin A, thiamin, maupun zink terbukti dapat mempengaruhi fungsi pembauan.

  1. Penurunan jumlah serabut bulbus olfaktorius

Penurunan serabut bulbus olfaktorius sebesar 1% per tahun akibat penurunan sel-sel sensorik pada mukosa olfaktorius dan penurunan fungsi kognitif di susunan saraf pusat.

  1. Proses degenerative.

Proses degenerative pada sistem saraf pusat berupa penyakit Parkinson, Alzheimer, dan proses penuaan normal dapat mengakibatkan hiposmia. Pada Alzheimer, hilangnya fungsi pembauan merupakan gejala pertama proses penyakitnya. Sedangkan proses penuaan, terjadi penurunan penciuman yang lebih pesat daripada pengecapan dan penurunan paling pesat terjadi pada usia 70an.

 

Untuk mengidentifikasi adanya gangguan penciuman diperlukan pemeriksaan fisik untuk menentukan sensasi kualitatif dan ambang batas deteksi.

  1. Pemeriksaan fisik untuk emenentukan sensasi kualitatif

Pemeriksaan fisik untuk emenentukan sensasi kualitatif yang paling sederhana dapat menggunakan bahan-bahan odoran berbeda. Contohnya kopi, vanilla, selai kacang, jeruk, limun, coklat, dan lemon. Pasien diminta untuk mengidentifikasi bau dengan mata tertutup dan kemudian mencium aroma dari bahan-bahan odoran tersebut.

 

 

 

Sedangkan saat ini terdapat beberapa metode yang tersedia untuk pemeriksaan penciuman, yaitu:

  1. Tes odor stix

Uji ini menggunakan pena penghasil bau-bauan. Penba ini dipegang dalam jarak sekitar 3-6 inci dari hidung pasien untuk mengkaji persepsi bau pasien secara kasar.

  1. Tes alkhohol 12 inci

Merupakan metode pemeriksaan persepsi bau secara kasar dengan menggunakan paket alkhohol isopropil yang dipegang pada jarak 12 inci.

  1. Scratch and sniff card

Metode ini menggunakan kartu yang memiliki 3 bau untuk menguji penciuman secara kasar

  1. The University of Pennsylvania Smell Identification Test (UPSIT)

Merupakan metode paling baik untuk menguji penciuman dan paling direkomendasikan. Uji ini menggunakan 40 item pilihan ganda berisi bau-bauan berbentuk kapsul mikro. Orang yang kehilangan seluruh fungsi penciumannya memiliki skor kisaran 1-7 dari skor maksimal 40. Untuk anosmia total, skor yang dihasilkan lebih tinggi karena terdapat adanya sejumlah bau-bauan yang bereaksi terhadap rangsangan terminal.

  1. Pemeriksaan fisik untuk emenentukan ambang batas

Penentuan ambang deteksi bau menggunakan alkhohol feniletil yang ditetapkan dengan menggunakan rangsangan bertingkat. Masing-masing lubang hidung harus diuji sensitivitasnya melalui ambang deteksi untuk fenil-etil metil etil karbinol.

 

 

 

 

BAB 4. PENUTUP

 

4.1 Kesimpulan

Sistem sensori berperan penting dalam hantaran informasi ke sistem saraf pusat mengenai lingkungan sekitarnya. Pemeriksaan fisik pada sistem sensori ini sangat kompleks karena harus melibatkan pemeriksaan pada kelima sistem indra tubuh yaitu penglihatan, pendengaran, pengecap, pembau, dan peraba.

Gangguan pada sistem sensori disebabkan oleh adanya lesi pada saraf yang mengatur sensori tubuh. Lesi-lesi tersebut dapat menghambat hantaran impuls saraf. Pemeriksaan fisik sensori dapat dilakukan pada berbagai usia dan dilakukan untuk dapat menentukan atau mengetahui apakan pasien tersebut mengalami gangguan pada saraf sensorinya.

 

4.2 Saran

Perawat hendaknya dapat mempraktikkan dan menguasai teknik dalam pemeriksaan fisik sistem sensori agar dapat menentukan tindakan asuhan keperawatan secara efektif.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Anonym. 2006. Critical Care Concept: Neuro Assesment Handout.

Brickley, Linn S. 2007. Buku Saku Pemeriksaan Fisik & Riwayat Kesehatan Bates.Edisi 5.Terjemahan oleh Esty Wahyuningsih. 2008. Jakarta: EGC.

Engel, Joyce. 1998. Pengkajian Pediatrik. Edisi 2. Jakarta: EGC.

Horison. 1995. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Vol I. Edisi 13. Jakarta: EGC.

Juwono, T. 1996. Pemeriksaan Klinik Neurologik Dalam Praktek. Jakarta: EGC.

Kris. 2005. Info Kesehatan THT-Bedah Kepala Leher: Gangguan Penciuman/Penghidu. http://thtkl.wordpress.com/2008/09/25/gangguan-penciumanpenghindu/  [13 Februari 2012].

Nasution, Siti saidah. 2003. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Perubahan Persepsi Sensori: Halusinasi. Medan: Universitas Sumatera Utara.

Price, Sylvia A. & Wilson, Lorraine M. 2002. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 6.Volume 2. Jakarta: EGC.

Pudjiastuti, Sri Surini & Utomo, Budi. 2002. Fisioterapi Pada Lansia. Jakarta: EGC.

Sarwono, Djoko. 1982. Penilaian Daya Penglihatan Anak Di Bawah Umur 1 Tahun. Jakarta: Cermin Dunia Kedokteran.

Smeltzer, Suzanne C. & Bare, Brenda G. 1996. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.Edisi 8.Volume 3.Terjemahan oleh Andry Hartono. 2002. Jakarta: EGC.

http://www.scribd.com/doc/45883660/SGD-1-Pemeriksaan-fisik

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

bsp; e)��a>�� �span>Makalah adalah hasil kerja orisinil dari kelompok (bukan plagiat).

 

  1. Daftar pustaka harus jelas sumbernya dan tidak berasal dari sebuah blog (untuk rujukan online).
  2. Makalah diketik diatas kertas HVS A4 dengan batas kiri 4 cm, kanan 3 cm, atas 3 cm, bawah 3 cm. Huruf Times New Roman 12 dengan spasi 1,5.
  3. Makalah dijilid rapi dengan bufalo warna biru muda, sebelum diserahkan ke dosen.
  4. 6.         Makalah harus sudah dikumpulkan ke dosen pendamping/fasilitator maksimal (paling lambat) 3 hari sebelum presentasi/perkuliahan atau H-3.  

lampiran 3

Format penilaian tugas kelompok

 

Format Penilaian makalah

kelompok                    :

semester/tahun ajaran  :

Dosen                          :

No Aspek yang dinilai Nilai maksimal
1. Aspek teoritis kasus

  1. Ketepatan pengertian kasus yang diambil (lebih dari 2 pengertian menurut berbagai pakar/ahli)
  2. Ketepatan pembuatan patofisiologi atau perjalanan penyakit dan secara skematik
  3. Ketepatan penatalaksanaan dan Komplikasi

 

10

10

10

2. Aspek teoritis keperawatan

  1. Ketepatan dalam pengkajian secara umum yang didapatkan dari pustaka/teori
  2. Kemampuan pemuatan tujuan dan criteria hasil
  3. Ketepatan dalam rencana tindakan
  4. Kemampuan merasionalkan rencana tindakan

10

10

10

10

3. Penggunaan referensi

  1. Ketepatan referensi yang digunakan
  2. Tahun referensi yang digunakan
  3. Kemampuan merangkum referensi

 

10

10

10

Total

100

 

 

Mengetahui

Dosen

 

 

 

 

………………………..

NIP

 

 

 

lampiran 4

Format penilaian

Peran serta selama diskusi

No

Aspek yang dinilai

Bobot

1.

Persiapan untuk conferment

10

2.

Mempersiapkan rencana askep

10

3.

Mengemukakan issu untuk diskusi kelompok

10

4.

Memberikan ide selama conferment

10

5.

Mensintesis pengetahuan dan memakainya dalam penyelesaian masalah

10

6.

Menerima ide orang lain

10

7.

Menstimulasi strategi keperawatan

10

8.

Mengontrol emosi sendiri

10

9.

Mampu bekerjasama dalam kelompok

 

10

Total nilai

100

Mengetahui

Dosen

 

 

 

 

 

………………………

NIP

 

 

12.�  ���ght:150%;font-family:”Times New Roman”,”serif”;mso-fareast-font-family: “Times New Roman”;mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;mso-bidi-theme-font: minor-bidi;mso-ansi-language:IN;mso-fareast-language:IN’>Anjurkan makan pada posisi duduk tegak

 

 

  1. Berikan diit tinggi kalori, rendah lemak
    1. keletihan berlanjut menurunkan keinginan untuk makan
    2. adanya pembesaran hepar dapat menekan saluran gastro intestinal dan menurunkan kapasitasnya.
    3. akumulasi partikel makanan di mulut dapat menambah bau dan rasa tak sedap yang menurunkan nafsu makan.
    4. menurunkan rasa penuh pada abdomen dan dapat meningkatkan pemasukan
    5. glukosa dalam karbohidrat cukup efektif untuk pemenuhan energi, sedangkan lemak sulit untuk diserap/dimetabolisme sehingga akan membebani hepar

 

Dx 3: kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan melalui muntahan

Tujuan: Mempertahankan hidrasi adekuat.

Kriteria hasil : Turgor kulit baik, haluaran urine sesuai, tanda vital stabil.

Intervensi

Rasional

  1. Awasi masukan dan haluaran, bandingkan dengan BB harian. Catat kehilangan melalui usus seperti muntah, diare.
  2. Kaji tanda vital, nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa.
  3. tanda perdarahan seperti hematuria, melena, perdarahan gusi atau bekas injeksi.
  4. Memberika informasi tentang kebutuhan penggantian / efek terapi.
 

  1. Indikator volume sirkulasi / perfusi.

 

  1. Kadar protombin dan waktu koagulasi menunjang bila observasi vitamin K terganggu pada traktus G1 dan sentesis protombin menurun karena mempengaruhi hati.

 

Dx 5: Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan pembengkakan hepar yang mengalami inflamasi hati dan bendungan vena porta.

Intervensi

Rasional

  1. kaji intensitas nyeri pasien

 

  1. berikan posisi myaman pada pasien

 

  1. ajarkan teknik relaksasi pada klien

 

  1. diskusikan dengan tim kesehatan lain tentang pemberian analgesic pada pasien yang tidak mengandung hepatotoksi
    1. mengetahui tingkat keparahan dari nyeri yang dirasakan pasien
    2. posisi yang nyaman akan membuat nyeri pasien semakin berkurang
    3. teknik relaksasi dilakukan dengan tujuan mengurangi nyeri yang dirasakan pasien
    4. pemberian analgesik non hepatotoksi dilakukan supaya dapat mengurangi nyeri tanpa merusak lebih parah fungsi hati

 

4.4  Implementasi

Implementasi dilaksanakan sesuai dengan intervensi yang ada

4.5 Evaluasi

  1. Pasien akan menunjukkan peningkatan berat badan mencapai tujuan dengan nilai laboratorium dan bebas tanda malnutrisi.
  2. Pasien akan menunjukkan perilaku perubahan pola hidup untuk meningkatkan/mempertahankan berat badan yang sesuai.
  3. Menunjukkan tanda-tanda nyeri fisik dan perilaku dalam nyeri yakni tidak meringis kesakitan.
  4. Tidak terjadi peningkatan suhu

 

 

 

 

BAB 5. PENUTUP

 

5.1  Kesimpulan

Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obat-obatan serta bahan-bahan kimia. Penyakit Hepatitis A adalah golongan penyakit Hepatitis yang ringan dan jarang sekali menyebabkan kematian, Virus hepatitis A (HAV=Virus Hepatitis A) penyebarannya melalui kotoran/tinja penderita yang penularannya melalui makanan dan minuman yang terkomtaminasi, bukan melalui aktivitas sexual atau melalui darah. Sedangkan hepatitis B (HBV) yang dahulu disebut hepatitis serum adalah suatu proses nekroinflamatorik yang mengenai sel-sel hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV).

Gejala hepatitis Abiasanya muncul akut, seperti gejala flu, mual, demam pusing yang terus menerus.Namun pada anak-anak kadang kala tidak timbul gejala yang mencolok hanya demam tiba-tiba, hilang nafsu makan.Pada pasien hepatitis B dapat mengalami penurunan selera makan, dispepsia, nyeri abdomen, pegal-pegal yang menimbulkan tidak enak badan dan demam. Biasanya suhu tubuh sedikit meninggi tapi jarang sampai 39,50C lebih. Gejala ikterus dapat terlihat atau kadang-kadang tidak tampak. Apabila terjadi ikterus gejala ini akan disertai dengan tinja yang berwarna cerah dan urin yang berwarna gelap. Hati penderita hepatitis B mungkin terasa nyeri saat ditekan dan menbesar hingga panjangnya mencapai 12-14 cm. Limpa membesar dan pada sebagian kecil pasien dapat diraba.Kelenjar limfe servikal posterior juga dapat membesar.Smeltzer (2002:1174)

5.2  Saran

Hepatitis merupakan penyakit yang menimpa hamir seluruh belahan dunia. Maka untuk menjaga tubuh kita agar tidak terserang penyakit ini maka kita perlu melakukan pencegahan secara dini, dengan cara:

  1. Menjaga kebersiha lingkungan
  2. Menjaga kebersihan personal
  3. Melakukan vaksinasi atau imunisasi sejak kecil

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anderson S, dan Lorraine C. W. 1993. Hepatitis Virus, dalam Patofisiologi Konsep klinis Proses-proses Penyakit, edisi 2.Jakarta: EGC

Behrmen, Richard E., Kliegmen, Robert M., dan Arvin, Ann M. 2000. Ilmu Kesehatan anak Nelson Vol. 2, Edisi 15alih bahasa: A. Samik Wahab. Jakarta: EGC

Doenges, Marilynn E. 2000.  Rencana Asuhan Keperawatan : pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3. Jakarta: EGC

Gallo, Huda. 1995.Keperawatan Kritis. Jakarta: EGC

Hadi.2000. Hepatologi. Bandung: Penerbit Mandar Maju

Harrison. 1999. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: EGC

Isselbacher, et al, Harrison. 2000. Hepatitis A sampai E, dalam Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Volume 4, Edisi 13. Jakarta : EGC

Moectyi, Sjahmien, 1997. Pengaturan Makanan dan Diit untuk

Ranuh, I.G.N. 2001.Buku Imunisasi Di Indonesia, Edisi I. Jakarta: Satgas Imunisasi IDAI

Price, Sylvia A., dan Wilson, Lorraine M. 2006.Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Vol. 1, Edisi 6, alih bahasa: Braham U Pendit [et al]. Jakarta: EGC

Pujiarto, P. S. 2000. Kebijakan Tatalaksana Hepatitis Virus A, B, C pada Anak bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI RSCM, Tinjauan Lengkap Hepatitis Virus pada Anak. Jakarta: FK UI

Sjaifoellah Noer,H.M. 1996. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam edisi ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI

Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Vol. 2, Edisi 8, alih bahasa: agung Waluyo [et al]. Jakarta EGC

Soemoharjo, S. 2002. Vaksinasi Hepatitis B, dalam Simposium Sehari Hepatitis B dan C. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada

 

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: