A great WordPress.com site

Archive for the ‘Transkultural’ Category

Gallery

Transkultural

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEPERAWATAN LINTAS BUDAYA

 

APLIKASI KEPERAWATAN LINTAS BUDAYA DI PAPUA PADA SUKU MARIND-ANIM

 

 

 

 

diajukan guna melengkapi salah satu tugas untuk mengikuti Mata kuliah Keperawatan Lintas Budaya

 

 

 

 

 

 

oleh :

Kelompok 13

 

Rima Dewi Asmarini                         NIM 102310101015

Akhmad Zainur Ridla                      NIM 102310101017

Chairur Rijal Ridallah                      NIM 102310101046

Siska Noviyanti                                  NIM 102310101060

Febri Suryo K                                    NIM 102310101074

Alvivo Dharma Candra                    NIM 102310101092

                       

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

UNIVERSITAS JEMBER

2012

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas berjudul “Aplikasi Keperawatan Lintas Budaya Di Papua Pada Suku Marind-Anim” dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun tujuan penyusunan tugas ini adalah untuk memenuhi tugas kelompok pada tengah semester empat Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Jember tahun ajaran 2011/2012.

            Penyusunan tugas ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:

  1. Ns. Tantut Susanto, M. Kep., Sp. Kep. Kom selaku penanggung jawab mata ajar Keperawatan Lintas Budaya;
  2. Ns Tantut Susanto, M. Kep., Sp. Kep. Kom selaku dosen pengajar mata kuliah Keperawatan Lintas Budaya;
  3. teman-teman yang telah membantu;
  4. semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu.

Dengan segala kerendahan hati penulis selaku penyusun tugas ini menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca demi kesempurnaan tugas yang serupa di masa yang akan datang.

            Semoga segala yang tertulis di dalam tugas ini bermanfaat bagi dunia pendidikan, khususnya dalam lingkup Universitas Jember.

 

Jember, 29 April 2012                                                                         Penulis

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL ……………………………………………………………………………… i

KATA PENGANTAR …………………………………………………………………………….. .ii

DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………………… iii

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………………….. 1

1.2 Tujuan   ………………………………………………………………………………………. 1

1.3 Manfaat ……………………………………………………………………………………… 1

BAB 2. TUINJAUAN TEORI TRANSKULTURAL NURSING

2.1    Model Transkultural Nursing                                                                   3

2.2    Pengkajian Transkultural Nursing                                                            5

2.3    Teknik Pengkajian Transkultural Nursing                                                5

BAB 3. STUDI KASUS BUDAYA

3.1    Kajian atau Deskripsi Budaya Masyarakat Suku Marind-Anim              7

3.2    Diagnosis Keperawatan Lintas Budaya                                                 ..9

3.3    Perencanaan Keperawatan Lintas Budaya                                             10

3.4    Pendekatan atau Teknik Transkultural Nusing……………………………….. 12

BAB 4. PEMBAHASAN

         4.1 Analisis Kesenjangan antara Teori dan Kasus Pengkajian Lintas Budaya (sunrise Model’s Leininger)     13

4.2 Analisis Kesenjangan Antara Teori dan Kasus Pendekatan /teknik Lintas Budaya           14

4.3 Implikasi Keperawatan ……………………………………………………………….. 14

BAB 5. PENUTUP

         5.1 Kesimpulan ……………………………………………………………………………….. 16

         5.2  Saran ……………………………………………………………………………………….. 16

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………………………….. 17

 

 

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Papua merupakan suatu pulau yang berada di Indonesia bagian timur dengan berbagai keunikan budaya dalam luas 309.934,4 km2 secara keseluruhan. Suku di papua sangat beragam dan terdiri dari 255 macam suku antara lain suku asmat, dani, yali, lani, marind-anim dan sebagainya. Suku marind-anim memiliki risiko infeksi dan penyebaran penyakit menular pada hubungan seksualitas. Beberapa kejadian di papua memiliki tingkat prevalensi tinggi sehingga perlu adanya pembangunan layanan kesehatan untuk menanggulangi masalah penyakit menular seksual. Prevalensi kejadian HIV-AIDS di papua mencapai 3.724 kasus dari 100.000 penduduk, sekitar 46,5%. Prosentase tersebut dapat dikatakan tinggi sebab kegiatan biseksual, homoseksual masih tinggi. Masalah tersebut dapat berdampak pada kesehatan tubuh masyarakat papua, baik dari segi traumatic, infeksi, maupun pola seksualitas. Hal tersebut berkaitan dengan kebiasaan buruk seksual masyarakat suku marind-anim, sehingga perlu adanya tindakan lebih lanjut.

1.2  Tujuan

  1. Mengidentifikasi masalah seksual terkait kebiasaan masyarakat Marind-anim;
  2. Mengidentifikasi masalah infeksi terkait pola seksualitas yang buruk;
  3. Mengidentifikasi masalah traumatik pada masyarakat Marind-anim terkait seksualitas.
  4. Mengidentifikasi upacara adat yang berdampak pada kesehatan masyarakat Marind-anim terkait penyakit HIV-AIDS.

1.3  Manfaat

Makalah ini memiliki manfaat sebagai pengubah atau negosiasi masalah kebiasaan seksualitas yang buruk pada masyarakat Marind-anim sehingga tercapai kebiasaan seksualitas yang sehat, adapun manfaat selain itu, yaitu:

  1. Mahasiswa dapat mengetahui model Transcultural Nursing
  2. Mahasiswa dapat mengetahui pengkajian Transcultural Nursing
  3. Mahasiswa dapat mengetahui teknik pengkajian Transcultural Nursing
  4. Mahasiswa dapat mengetahui deskripsi Budaya Masyarakat Marind-anim di Papua
  5. Mahasiswa dapat mengetahui pengkajian Transculturan Nursing pada masyarakat Marind-anim di Papua
  6. Mahasiswa dapat mengetahui diagnosis keperawatan Lintas Budaya pada masyarakat Marind-anim di Papua
  7. Mahasiswa dapat mengetahui pendekatan atau teknik Transcultural Nursing pada masyarakat Marind-anim di Papua
  8. Mahasiswa dapat menganalisis kesenjangan konsep pengkajian Transculturan Nursing dengan pengkajian Transculturan Nursing pada masyarakat Marind-anim di Papua
  9. Mahasiswa dapat mengetahui analisis kesenjangan konsep pendekatan atau teknik pengkajian lintas budaya dengan pendekatan atau teknik pengkajian Transculturan Nursing pada masyarakat Marind-anim di Papua
  10. Mahasiswa dapat mengetahui implikasi keperawatan dalam layanan keperawatan masyarakat Marind-anim di Papua.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2. TINJAUAN TEORI TRANSKULTURAL NURSING

2.1 Model Transkultural Nursing

 
   

Transkultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada
proses belajar dan praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan
kesamaan diantara budaya dengan menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002).

 

2.1.1        Culture Care

Merupakan bagian dari budaya yang membantu, mendukung, serta digunakan atau dapat memfasilitasi tindakan keperawatan individu secara mandiri serta terhadap orang lain, berfokus pada kenyataan, atau mengantisipasi suatu pemenuhan kebutuhan kesehatan klien atau peningkatan kesejahteraan, memfasilitasi suatu ketergantungan, kematian, atau berbagai kondisi manusia/individu.

2.1.2 Worldview

Bagaimana individu atau kelompok melihat dunia berdasarkan budaya, nilai dan keyakinan yang dianut oleh individu atau kelompok tersebut.

2.1.3 Culture And Social Structure Dimensions

Berdasarkan suatu kedinamisan, keseluruhan (menyeluruh), hubungan antar dimensi dari budaya dan struktur social di masyarakat,  baik politik, ekonomi, pendidikan, tekhnologi, agama, sejarah dan bahasa.

 

Perencanaan Keperawatan lintas budaya beerdasarkan sunrise Model:

  1. Culture Care Preservation Or Maintenance

Bagaimana membantu, memfasilitasi, sebagai suatu tindakan professional bagi individu atau kelompok dalam mengambil suatu keputusan perawatan dan membantu memberikan pengetahuan atau merubah pola pikir individu dan kelompok dalam perawatan kesehatan.

  1. Culture Care Accomondation Or Negotiation

Bagaimana tindakan professional dalam memfasilitasi atau membantu individu dalam menjelaskan hubugan budaya yang dianut dalan perawatan kesehatan,

  1. Culture Care Repeatterning Or Restructuring

Membantu dan memfasilitasi individu dan kelompok dalam malakukan modifikasi atau perubahan terhadap sesuatu, dalam upaya perawatan dan peningkatan kesehatan.

 

 

2.2 Pengkajian Transcultural Nursing

Pengkajian merupakan kegiatan mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien sesuai dengan latar belakang kebudayaan klien (Giger: 1995). Pengkajian transcultural nursing dirancang berdasarkan tujuh komponen dalam Sunrise Model.

2.2.1        Faktor teknologi (technological factors)

Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapatkan penawaran penyelesaian masalah kesehatan. Hal yang perlu dikaji oleh perawat dalam faktor teknologi antara lain: persepsi sehat sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan, alas an klien memilih pengobatan alternative dan persepsi klien tentang penggunaan dan pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang dialami.

2.2.2        Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)

Agama merupakan simbol yang merupakan pandangan realistis bagi penganutnya.  Agama dapat memberikan dorongan moral bagi pemeluknya dalam menjalani kehidupan. Hal yang perlu dikaji oleh perawat dalam faktor agama dan falsafah hidup yaitu: agama yang dianut, cara pandang klien terhadap penyebab penyakit yang dialami, cara pengobatan yang dijalani oleh klien, dan kebiasaan agama yang berdampak terhadap kesehatan klien.

2.2.3        Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social faktors)

Hal yang dapat dikaji dalam faktor ini antara lain: nama klien, usia, tipe keluarga, jenis kelamin, pengambilan keputusan dalam keluarga, dan hubungan klien dengan kepala keluarga

2.2.4        Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)

Nilai budaya merupakan sesuatu yang ditetapkan oleh penganut kebudayaan baik yang benar maupun salah. Hal yang perlu dikaji dalam faktor ini antara lain: bahasa yang digunakan, kebiasaan makan, makanan pantangan ketika klien sakit, dan kebiasaan membersihkan diri.

2.2.5        Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)

Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlak adalah segala sesuatu yang mempengaruhi kegiatan individu dalam asuhan keperawatanlintas budaya (Andrew and Boyle: 1995). Hal yang harus dikaji dalam faktor ini antara lain: peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam berkunjung, jumlah anggota yang boleh menunngu, cara pembayaran untuk klien yang dirawat.

2.2.6        Faktor ekonomi (economical factors)

Klien yang dirawat di rumah sakit akan menggunakan material yang dimiliki untuk biaya selama pengobatan yang dijalani. Hal yang perlu dikaji dalam hal ini antara lain: pekerjaan, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki keluarga, sumber biaya yang lain, dan penggantian biaya dari pihak lain.

2.2.7        Faktor pendidikan

Pendidikan formal yang telah dilalui oleh suatu individu merupakan latar belakang pendidikan yang difokuskan dalam faktor ini. Hal yang perlu dikaji antara lain: tingkat pendidikan klien, jenis pendidikan dan kemampuan belajar aktif mengenai pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.

 

2.3         Teknik  pengkajian Transkultural Nursing

Dalam melakukan pengkajian keperawatan lintas budaya, tentunya harus memiliki teknik-teknik khusus agar dapat memndapatkan data sesuai dengan yang diinginkan, teknik tersebut antara lain:

2.3.1   Tidak menggunakan asumsi

2.3.2 Tidak menggunakan streotip yang dapat menyebabkan konflik, misalnya: orang padang pelit, orang jawa halus

2.3.3   Menerima dan memahami metode komunikasi

2.3.4   Menghargai perbedaan tiap-tiap individu

2.3.5   Menghargai kebutuhan personal dari masing-masing individu

2.3.6   Tidak membeda-bedakan keyakinan yang dianut oleh klien

2.3.7   Menediakan privasi terkait kebutuhan pribadi klien

 

 

 

 

BAB 3. STUDI KASUS BUDAYA

 

3.1 Kajian atau Deskripsi Budaya Masyarakat Suku Marind-Anim

            Suku marind-anim merupakan salah satu suku yang berada di wilayah Papua. Marind-anim bertempat di Kabupaten Merauke, merupakan kabupaten yang terluas dan tertimur dari Indonesia.

            Dalam suku marind-anim terdapat pula konsep seksualitas yang mempengaruhi penyebaran HIV/AIDS serta penyakit menular seks lainnya. Suku ini percaya bahwa hubungan seksual dapat meningkatkan kesuburan, namun yang menjadi salah adalah hubungan seksual yang dilakukan tidak hanya dengan satu pasangan. Kegiatan seksualitas suku marind-anim ini dilakukan dengan banyak orang tergantung upacara adat apa yang sedang dilakukan. Berikut ini akan dijelaskan beberapa upacara adat yang dilakukan suku marind-anim yang dapat meningkatkan penyebaran penyakit menular seksual:

  1. Upacara Mite-Ndiwa

Dalam budaya mayo yang di anut suku marind-anim yang dimaksud dengan mite-ndiwa adalah upacara yang digunakan untuk mendidik kaum pria dalam mengatur keseimbangan antara manusia dan lingkungan dengan menggunakan kekuatan roh ilahi (ndiwa). Kelapa muda yang digunakan dalam upacara ini sebagai bentuk perlambangan dari ndiwa itu sendiri dan belahan nipah digunakan sebagai perlambangan dari roh yang dapat berbicara. Kelapa muda ini kemudian akan dibelah dan daging buahnya akan dicampur dengan sperma dari hasil senggama terputus laki-laki dengan perempuan, yang kemudian campuran ini akan dibagikan kepada semua peserta upacara untuk diminum agar mendapatkan kekuatan ilahi.

  1. Upacara Bambu Pemali (Barawa)

Bambu pemali menurut aliran mayo merupakan proses belajar untuk melakukan seks. Pada upacara inilah terjadi hubungan seks secara bebas. Upacara ini menggambarkan pengusiran terhadap dewa pelindung atas perintah tanawi geize (setan purba) dengan cara menggosokkan sperma di tiang rumah. Sehingga pada upacara ini laki-laki dan perempuan dianjurkan untuk bersetubuh agar sperma dapat keluar.

  1. Upacara Ezam Uzum

Upacara dengan dimana setiap hiasan yang digunakan ada hubungannya dengan seks. Dalam upacara ini, kepala suku diharuskan untuk melakukan hubungan seksual sebanyak 3-5 kali dengan janda. Tujuannya untuk mendapatkan sperma untuk melakukan upacara ezam uzum. Sperma dalam suku marind-anim memiliki makna kesucian untuk mengusir setan yang mengganggu, bisa untuk membunuh, dan menyembuhkan orang.

  1. Upacara Kambara

Aliran mayo percaya bahwa ada alawi yang bertugas untuk mengatur keseimbangan. Alawi ini kemudian akan menyuruh seseorang (Tik Anem) untuk menyebarkan penyakit dan membunuh orang yang berlebih pada suatu desa. Tik Anem ini memakai sebuah kekuatan dalam sperma untuk melakukan tugasnya tersebut. Sehingga sebelum pembunuhan dilakukan pada upacara kambara, akan dilakukan pengadilan terlebih dahulu oleh zambanem. Pemilihan zambanem ini dinilai dari keperkasaan orang tersebut. Zambanem yang terpilih itu kemudian akan melakukan hubungan seksual dengan wanita yang ada di desa tersebut untuk mengumpulkan spermanya. Satu wanita yang terpilih akan melakukan hubungan seksual dengan 5 zambanem.

  1. Upacara Perkawinan

Sebelum dilakukan pernikahan, suku madrind-anim akan melakukan pemisahan tempat tinggal. Anak laki-laki pada rumah laki-laki dan anak perempuan pada rumah perempuan. Setelah dewasa mereka akan bertemu pada suatu pesta seks yang merupakan rangkaian upacara. Pesta seks ini selalu dilakukan dalam acara meningkatkan kesuburan, membuka kebun, awal kegiatan pengayauan dan perkawinan. Upacara perkawinan ini melibatkan laki-laki dan perempuan dalam pesta heteroseksual bebas. Pemahaman dari upacara ini hubungan seksual dilakukan secara religious. Calon pengantin perempuan harus melakukan hubungan seksual dengan sepuluh laki-laki dari kerabat suaminya sebelum menikah. Hal ini dilakukan untuk peningkatan kesuburan wanita, semakin banyak cairan sperma yang wanita dapat maka makin subur dan kuat wanita tersebut.

 

Upacara-upacara seperti diatas bagi kaum marind-anim sudah biasa dilakukan. Upacara ini tidak memandang status dari peserta upacara apakah masih single atau sudah berumah tangga. Semua ini terjadi karena pemahaman dari suku ini yang salah. Bagi kaum wanita marind-anim, selain untuk menambah kesuburan, sperma juga untuk kecantikan. Mereka juga percaya bahwa sperma yang tinggal dan terkumpul di dalam tubuhnya akan membantu pertumbuhan tubuh mereka Persetubuhan yang dilakukan secara heteroseksual sebelum menikah pun sudah banyak dilakukan dalam upacara-upacara adat.

 

3.2 Diagnosa Keperawatan

3.3.1 Resiko infeksi berhubungan dengan perilaku seksual yang salah ditandai dengan adanya upacara yang memperbolehkan untuk melakukan hubungan seksual secara bebas.

3.3.2 Resiko trauma berhubungan dengan kegiatan seksual yang tidak diinginkan dan ekstrem ditandai dengan keharusan adat untuk melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan.

3.3.3 Pola seksualitas tidak efektif berhubungan dengan pasangan lebih dari satu ditandai dengan adanya laki-laki dan perempuan yang berkeluarga tetap melakukan hubungan seksual dengan orang lain saat upacara adat, dan keharusan bersenggama dengan 10 kerabat dari calon suami sebelum melakukan perkawinan.

3.3.4 Gaya hidup salah yang menetap berhubungan dengan pengetahuan yang kurang di tandai dengan tetap dilakukannya upacara adat mite ndiwa, kambara, bamboo pemali dan ezam ezum.

3.3.5 Penurunan kesehatan masyarakat berhubungan dengan infeksi berulang yang ditandai dengan adanya pergantian pasangan secara bebas.

3.3.6 Ketidak efektifan menjaga kesehatan berhubungan dengan persepsi kesehatan yang salah ditandai dengan persepsi wanita marind-arin bahwa sperma dapat meningkatkan kesuburan, pertumbuhan tubuh, kekuatan dan kecantikkan.

 

3.3 Perencanaan Keperawatan Lintas budaya

1. Resiko infeksi berhubungan dengan perilaku seksual yang salah ditandai dengan adanya upacara yang memperbolehkan untuk melakukan hubungan seksual secara bebas.

            Tujuan (NOC) : Mencegah infeksi penyakit menular kelamin

            Kriteria Hasil   : Masyarakat tidak lagi melakukan seks bebas, seks hanya

  dengan satu pasangan, pemakainan alat pengaman missal  kondom.

            Intervensi (NIC)         :

  1. Tentukan motivasi pasien untuk berubah
  2. Kuatkan perubahan untuk berfokus pada kebutuhan kesehatan
  3. Tentukan kebiasaan yang akan di control
  4. Ubah kebiasaan buruk secara bertahap missal tidak melakukan hubungan seksual dengan banyak orang
  5. Lakukan program rutin untuk mengubah kebiasaan missal pendidikan kesehatan.
  6. Fasilitasi keluarga dalam proses modifikasi kebiasaan seksual yang sesuai dan sehat.
  7. Informasikan rencana tindakan dan modifikasi yang akan dilakukan pada tim kesehatan lain.

 

2. Resiko trauma berhubungan dengan kegiatan seksual yang tidak diinginkan dan ekstrem ditandai dengan keharusan adat untuk melakukan hubungan seksual dengan banyak pasangan.

Tujuan (NOC) : Mencegah terjadinya kekerasan yang mengakibatkan      trauma

            Kriteria Hasil   :

            Intervensi (NIC)         :

  1. Tentukan keinginan eksplisit berhubungan dengan kebiasaan seksual sesuai dengan tingkat pendidikan masyarakat
  2. Diskusikan dengan masyarakat mengenai akibat yang tidak dapat diterima mengenai kebiasaan seksual.
  3. Diskusikan dampak negative dari perilaku seksual yang tidak diinginkan.
  4. Lakukan pendekatan secara perlahan sesuai dengan masalah yang ada
  5. Berikan penjelasan mengenai konsekuensi yang telah ditetapkan mengenai kebiasaan seksual yang tidak diinginkan.
  6. Ajarkan kebiasaan seksual yang benar sesuai dengan latar belakang masyarakat.
  7. Berikan bimbingan kepada masyarakat yang melakukan penyalahgunaan seksualitas.

 

3. Pola seksualitas tidak efektif berhubungan dengan pasangan lebih dari satu ditandai dengan adanya laki-laki dan perempuan yang berkeluarga tetap melakukan hubungan seksual dengan orang lain saat upacara adat, dan keharusan bersenggama dengan 10 kerabat dari calon suami sebelum melakukan perkawinan.

Tujuan             : Masyarakat akan melakukan hubungan seks dengan `                                               pasangan resminya.

            Kriteria Hasil   :  tidak ada seks bebas, hanya dengan pasangan tunggal

            Intervensi        :

  1. Diskusikan akibat nyata dari kesalahan seksualitas
  2. Diskusikan pengetahuan masyarakat mengenai seksualitas secara umum
  3. Diskusikan rencana perubahan pada kegiatan seksual
  4. Berikan informasi sebenarnya mengenai mitos seksual yang beredar dan kesalahan informasi
  5. Diskusikan alternative solusi untuk mengubah kebiasaan
  6. Berikan penjelasan mengenai kegiatan seks yang sehat
  7. Kolaborasikan dengan ahli terapi sex.

3.4 Pendekatan Atau teknik Transkultural Nursing

  1. Komunikasi

Perawat dapat  berkolaborasi dengan perawat yang ada di papua, yang mengerti bahasa suku marind-anim. Setelah itu meminta perawat yang ada di papua tersebut berbicara dengan kepala suku marind-anim, untuk melakukan negosiasi budaya untuk merubah pola seksualitas pasa suku  marind-anim.

  1. Ruang

Menggunakan kondisi ketika perawat, masyarakat suku marind-anim dan kepala suku sudah tejalin rasa saling percaya dan terbuka. Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya timbal balik agar tercipta kesehatan yang baik.

  1. Waktu

Perawat dapat memilih waktu yang tepat yaitu pada saat sebelum musim upacara diselenggarakan. Pada saat tanda dan gejala penyakit tersebut timbul, perawat dapat masuk memberikan pendidikan kesehatan, sehingga perawat dapat mencegah timbulnya penyakit HIV/Aids.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4. PEMBAHASAN

 

4.1 Analisis Kesenjangan Pengkajian Lintas Budaya

Pengkajian keperawatan lintas budaya dengan menggunakan tujuh faktor pada sunrise model pada suku marind-anim mendapatkan kesenjangan akibat kebiasaan, kebudayaan dan kepercayaan. Berdasarkan data yang telah didapatkan, seluruh data memiliki kesenjangan yang berpengaruh terhadap status kesehatan masyarakat suku marind-anim. Masyarakat suku marind-anim memiliki kebudayaan yang banyak menyimpang dari kesehatan. Masyarakat suku marind-anim memiliki kepercayaan bahwa kehidupan bersumber dari sperma. Sperma yang memberi melambangkan kesucian. Masyarakat suku marind-anim memiliki keyakinan bahwa sperma memiliki kekuatan, dapat menyembuhkan, bahkan dapat membunuh. Masyarakat suku marind-anim melakukan pola seksual yang bebas. Mereka dapat melakukan hubungan seks secara heteroseksual maupun secara homoseksual.

Masyarakat suku marind-anim memiliki kebudyaan dimana sebelum melakukan pernikahan, mempelai wanita harus melakukan hubungan seksual dengan sepuluh kerabat laki-laki dari mempelai laki-laki. Selain itu, masyarakat suku marind-anim memiliki kepercayan mengenai roh-roh yang hidup disekitarnya yang kemudian mengundang masyarakat suku marind-anim untuk melakukan hubungan secara heteroseksual. Selain itu, masyarakat suku marind-anim percaya dengan adanya utusan dari tuhan yang disebut Tik-Anem, dimana Tik-Anem. Mengatur keseimbangan antara kehidupan manusia dan hewan dengan alam semesta. Apabila terdapat ketidakseimbangan, maka Tik-Anem akan membunuh yang dirasa belebihan dengan menggunakan sperma yang sebelumnya ditampung pada wanita yang disetubuhi oleh lima pria perkasa. Kemudian masyarakat marind-anim juga sangat menghormati kepala adat. Setiap melakukan upacara adat, kepala adat akan melakukan hubungan tiga sampai lima wanita janda atupun ibu-ibu.

Selain itu, masyarakat suku marind-anim juga melakukan hubungan homoseksual pada upacara adat. Masyarakat marind-anim memiliki keyakinan bahwa hubungan homoseksual merupakan tindakan utama dari kebiasaan, adat istiadat serta kepercayaan.

 

4.2 Analisis Kesenjangan Pendekatan/Teknik Lintas Budaya

Teknik keperawatan lintas budaya dilakukan dengan  adanya pendekatan pada latar belakang budaya masyarakat suku marind-anim dalam hubungan seksualitas. Kebiasaan budaya pada kondisi saat akan melakukan pernikahan yang mengharuskan mempelai wanita melakukan hubungan seks dengan kerabat mempelai laki-laki  sebelum sah menjadi istri lelaki tersebut. Hal ini menjadi sangat sulit dilakukan perubahan kebiasaan karena hal ini telah menjadi tradisi marind-anim sebagai tanda sah pernikahan tersebut. Komunikasi, ruang, dan waktu menjadi salah satu blueprint yang diperlukan saat melkukan tindakan, disertai hubungan interpersonal yang baik terhadap kepala suku dan masyarakat marind-anim.

 

4.3 Implikasi Keperawatan

Masyarakat Marind-anim termasuk masyarakat yang senang berburu binatang, terutama babi. Hewan tersebut menjadi makanan keseharian dan sering kali digunakan sebagai konsumsi saat acara upacara adat dilakukan. Upacara yang dilakukan lebih banyak dilakukan dengan melakukan seks bebas. Pada waktu upacara, baik sebelum maupun sesudah perawat dapat masuk memberikan apa yang masyarakat Marind-anim butuhkan.

Pendekatan yang dapat dilakukan dapat menggunakan pendekatan kebudayaan dan struktur-fungsional. Hal ini tergantung masalah pengetahuan dan dimensi inteligensi masyarakat Marind-anim serta relasi yang terkait.

Pendekatan kebudayaan lebih ditekankan pada foktor dimensi pengetahuan individu terkait system biologis yang ada dalam otak dan pikiran mereka. Hasrat untuk melakukan seks bebas menjadi kebiasaan yang tertual dalam upacara adat yang mampu berdampak buruk bagi kesehatan mereka. Banyak sekali masalah yang dapat terjadi bila masalah ini tidak teratasi misalnya penyebaran serta endemic penyakit menular kelamin dalam masyarakat tersebut.

Pendekatan struktur-fungsional dapat menggunakan system relasi dan kepemimpinan, yaitu mengajak pihak pemimpin suku melakukan negosiasi budaya disertai penjelasan kesehatan yang mampu mereka pahami dengan bahasa yang mereka sukai. Pemerintahan daerah papua juga dapat membantu proses pendekatan sehingga diharapkan tercipta sesuatu yang mampu merubaha kebiasaan dan perilaku menyimpang dari kesehatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5. PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

            Pulau Papua memiliki beragam kebudayaan dan upacara adat yang menmacam-macam serta perilaku masyarakat yang diluar garis kesehatan seperti masyarakat Marind-anim yang memiliki strukturisasi kebudayaan seks bebas, sehingga mampu menimbulkan dampak penyakit menular seksual (HIV-AIDS). Pentingnya keterlibatan keperawatan dalam masalah tersebut sangat diperlukan, diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran perilaku tersebut untuk menjadi sehat dan mengurangi penyebaran penyakit HIV-AIDS.

 

5.2 Saran

            Diharapkan masyarakat dan pemerintah turut sadar akan dampak berkelanjutan penyebaran penyakit HIV-AIDS baik dari segi perilaku maupun kebiasaan sehari-hari, sehingga keadaan homeostatis dapat terjaga dalam garis kesehatan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

A.E. Dumatubun. 2003. Pengetahuan, Perilaku Seksual Suku Bangsa Marind-Anim Volume 1. No. 3 Agustus 2003

Bulechek., Buthcer., dan Dochterman. 2008. Nursing Interventions Classification (NIC), Fifth  Edition. Mosby: Elsevier

Johnson., Maas., Moorhead., dan Swanson. 2008. Nursing Outcomes Classificatoin (NIC), Fourth Edition. Mosby: Elsevier

Dumatubun, A.E., M.T. Siregar, Enos Rumansara. 1997. Laporan Penelitian Pemetaan Sosial Budaya di Kabupaten Daerah Tingkat II Merauke, Fakfak dan Jayawijaya. Jayapura. Pusat Penelitian Universitas Cenderawasih dan Dinas Kebudayaan Propinsi Dati I. Irian Jaya.

Leininger, Madeleine M. 2002. Transcultural Nursing. McGraw-Hill: Medical Publication

Giger , Joyce Newman . 2012. Transcultural Nursing Assasement and intervention. USA: Elsevier Health Sciences

 

 

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.