A great WordPress.com site

BAB 4. ASUHAN KEPERAWATAN

 

            Pada bab ini, akan dibahas mengenai asuhan keperawatan kepada klien dengan Sirosis Hepatis. Asuhan keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa, rencana, implementasi dan evaluasi keperawatan.

 

 

4.1 PENGKAJIAN

 

4.1.1 Pengkajian secara umum

Pengkajian secara umum pada klien dengan penyakit Sirosis Hepar biasanya  meliputi hal-hal berikut:

  1. Aktifitas / latihan

Kelemahan, kelelahan, terlalu lelah, letergi, penurunan masa otot / tonus

  1. Sirkulasi

Riwayat gagal ginjal kronik, perikarditis, penyakit jantung reumatik kanker (Malfungsi hati menimbulkan gagal hati )Disritmia,distensi vena abdomen.

  1. Eliminasi

Flatus, distensi abdomen (Hepatomegali, splenomegali, asites, Penurunan bising usus feces warna tanah liat, melena, urine gelap, pekat.

  1. Makanan / cairan

Anorexia,tidak toleran terhadap makanan / tak dapat mencerna, mual / muntah penurunan berat badan atau peningkatan cairan, edema, kulit kering, turgor buruk, ikterik, nafas berbau keton / Feor hepatikus.

  1. Neurosensori

Orang terdekat dapat melaporkan perubahan kepribadian,, penurunan mental, perubahan mental, halusinasi, lambat bicara, asterik.

  1. Nyeri / kenyamanan

Nyeri tekan abdomen / nyeri kuadran kanan atas, pruritus, neuritis perifer, perilaku hati-hati, pokus pada diri sendiri.

  1. Pernafasan

Dispnea, takipnea, pernafasan dangkal, bunyi nafas tambahan, ekspansi paru terbatas,hipoksia

  1. Keamanan

Pruritus, demam (Lebih umum pada Sirosis alkoholik) ikterik, ikimosis petikie,angioma spider .

  1. Seksualitas

Gangguan menstruasi, impoten, altrofi, testis, ginekosmatia, kehilangan rambut (dada bawah lengan, pubis ).

  1. Penyuluhan / pembelajaran

Riwayat penggunaan alkohol jangka panjang / empedu, hepatitis terpajan pada toksin ,trauma hati, perdrahan GI atas, episode perdarahan varises esopagus, penggunaan obat yang mempengaruhi  fungsi hati.

 

4.1.2 Pemeriksaan diagnostik

  1. Pemeriksaan darah
    1. Darah pada penderita sirosis hati dapat ditemukan Hb yang rendah, anemia (normokrom normositer, hipokrom mikrositer, hipokrom makrositer). Anemia diduga akibat hipersplenisme dengan leukopenia dan trombositopenia. Pemeriksaan kolesterol dilakukan oleh karena kolesterol darah yang rendah mempunyai prognosis yang kurang baik.
    2. Kenaikan kadar enzim transaminase (SGOT, SGPT): aspartat aminotransferase (AST) atau serum glutamil oksalo asetat transaminase (SGOT) dan alanin aminotransferase (ALT) atau serum glutamil piruvat transaminase (SGPT) meningkat tetapi tidak begitu tinggi. AST lebih meningkat dari ALT, namun bila transaminase normal tidak mengenyampingkan adanya sirosis.
    3. Alkali fosfatase (ALP) meningkat kurang dari 2 sampai 3 kali harga batas normal atas.
    4. Peningkatan gamma-glutamil transpeptidase (GGT), GGT kadarnya tinggi pada penyakit hati alkoholik kronik. Boleh karena alkohol selain menginduksi GGT mikrosomal hepatik, juga menyebabkan bocornya GGT dari hepatosit.
    5. Bilirubin kadarnya bisa normal pada sirosis hati kompensata dan meningkat pada sirosis yang lanjut.
    6. Albumin: albumin diproduksi di hati dan kadarnya akan menurun sesuai dengan perburukan sirosis.
    7. Globulin: kadarnya meningkat pada sirosis, terjadi oleh karena adanya pintasan antigen bakteri dari sistem porta ke jaringan limfoid yang selanjutnya menginduksi produksi immunoglobulin.
    8. Waktu protrombin: mencerminkan derajat disfungsi sel hati, dan akan memanjang pada sirosis.
    9. Natrium serum akan menurun terutama pada sirosis dengan asites, dikaitkan dengan ketidakmampuan ekskresi air bebas.
    10. Gula darah: kadar gula darah pada sirosis akan meningkat oleh karena kemampuan hati membentuk glikogen berkurang.
  2. Pemeriksaan Serologi
    1. Pemeriksaan marker serologi pertanda virus seperti HbsAg dan HbcAg, dan bila mungkin HBV DNA, HCV RNA adalah penting dalam menentukan etiologi sirosis hati.
    2. Pemeriksaan AFP (Alfa Feto Protein) penting dalam menetukan apakah telah terjadi transformasi kearah keganasan. Nilai AFP yang terus naik (>500-1000) mempunyai nilai diagnostik untuk suatu hepatoma / kanker hati primer.
  3. Pemeriksaan Penunjang Lainnya.
    1. Biopsi hati .

Diagnosis pasti sirosis hati dapat ditegakkan secara mikroskopis dengan melakukan biopsi hati. Dapat dilakukan dengan cara biopsi hati perkutaneus atau biopsi terarah sambil melakukan peritoneoskopi. Biopsi sulit dikerjakan dalam keadaan asites yang banyak dan hati yang mengecil.

  1. USG Abdomen

Pada saat ini pemeriksaan USG sudah mulai dilakukan sebagai alat pemeriksaan rutin penyakit hati. Yang dilihat Pada USG antara lain tepi hati, permukaan, pembesaran, homogenitas, asites, splenomegali, gambaran vena hepatika, vena porta, pelebaran saluran empedu, daerah hipo atau hiperekoik atau adanya SOL (Space Occupying Lesion). Sonografi dapat mendukung obstruktif batu kandung empedu dan saluran empedu.

  1. Esofagoskopi
    Dengan Esofagoskopi dapat dilihat varises esofagus sebagai komplikasi sirosis hati/hipertensi portal. Kelebihan endoskopi ialah dapat melihat langsung sumber perdarahan varises esofagus, tanda-tanda yang mengarah akan kemungkinan terjadinya perdarahan (red color sign) berupa cherry red spot, red whale marking, kemungkinan perdarahan yang lebih besar akan terjadi bila dijumpai tanda diffus redness. Selain tanda tersebut dapat dievaluasi besar dan panjang varises serta kemungkinan perdarahan yang lebih besar.
  2. Sidikan Hati

Radionukleid yang disuntikkan secara intravena akan diambil parenkim hati, sel retikuloendotel dan limpa. Bisa dilihat besar dan bentuk hati, limpa, kelainan tumor hati, kista, filling defek. Pada sirosis hati dan kelainan difus parenkim terlihat pengambilan radio nukleid hati secara bertumpuk-tumpuk (patchy) dan difus.

  1. Portografi transhepatitis perkutaneus : Memperlihatkan struktur sistem vena portal.
  2. Billirubin serum : Meningkat karena gangguan seluler, ketidakmampuan hati untuk mengkonjugasi / obstruksi bilier.
  3. Foto sinar X  pada abdomen

Untuk mengetahui ukuran hati, udara dan kista pada hati dan traktus billier, kalsifikasi hati dan aktifitas massif.

  1. Radioisotop hati : Menunjukan guratan pada hati yang abnormal dan mengidentifikasi adanya massa pada hati.
  2. Pemeriksaan angiografi : Untuk mengidentifikasi tempat perdarahan.
  3. Pemeriksaan Cairan Asites

Dilakukan dengan pungsi asites. Melalui pungsi asites dapat dijumpai tanda-tanda infeksi (peritonitis bakterial spontan), sel tumor, perdarahan dan eksudat. Pemeriksaan yang dilakukan terhadap cairan pungsi antara lain pemeriksaan mikroskopis; kultur cairan, dan pemeriksaan kadar protein, amilase dan lipase.

 

 

4.2 Diagnosa Keperawatan

1)      Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan inflamasi akut

2)      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan diare yang dialami pasien

3)      Risiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penumpukan garam empedu di bawah kulit

4)      Risiko tinggi perdarahan berhubungan dengan pembekuan darah terganggu

5)      Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ketidakmampuan usus mengemulsikan lemak

6)      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan yang dialami pasien

7)      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan ekspansi paru terganggu

 

 

 

 

 

 

 

4.3 Intervensi Keperawatan

 

Diagnosa

Tindakan

Perawatan

Nama Perawat/Mhs

1)      Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan inflamasi akut

 

  1. Kaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien
    Rasional : mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan pasien
  2. Kaji mekanisme koping pasien dan keluarga
    Rasional : mengetahui kping yang dimiliki oleh pasien dan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan pasien
  3. Ajarkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi nafas dalam
    Rasional : mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien
  4. Berikan kompres hangat pada pasien
    Rasional : mengurangi nyeri yang dialami pasien
  5. Diskusikan dengan tim kesehatan lain terkait pemberian obat analgesik
    Rasional : obat analgesik dengan dosis tertentu dapat mengurangi rasa nyeri yang dialami pasien

Ns.x

2)      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan diare yang dialami pasien

 

  1. Kaji  tanda-tanda vital pasien

Rasional: mengetahui keadaan umum pasien

  1. Pantau haluaran urine setiap hari

Rasional: urine yang keluar dan diketahu perawat dapat digantikan dengan cairan lain

  1. Berikan cairan melalui IV pasien

Rasional: cairan melalui IV dapat menggantikan kekurangan cairan dalam tubuh pasien

  1. Ajarkan pasien untuk banyak minum air putih

Rasional: minum air putih dapat membantu untuk mengembalikan status cairan pasien

  1. Libatkan keluarga dalam melakukan intervensi pada pasien

Rasional: keluarga dapat mebujuk pasien agar mematuhi dan mengikuti semua intervensi yang akan dilakukan oleh perawat

 

3)      Risiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penumpukan garam empedu di bawah kulit

 

  1. Evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman
    Rasional : Pengenalan dini dan pengobatan ventilasi dapat mencegah komplikasi
  2. Auskultasi bunyi nafas.

Rasional : Mengetahui adanya bunyi tambahan.

  1. Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler.

Rasional : Merangsang fungsi pernafasan atau ekspansi paru

  1. Ajarkan teknik pernapasan pada pasien

Rasional : untuk mempermudah pola nafas pasien

  1. Kaji respon pernapasan

Rasional : melihat keefektifan pemberian koping

  1. Berikan tambahan oksigen.

Rasional : Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru

 

 

 

 

4.4  Implementasi

  1. Gangguan rasa nyaman : Nyeri berhubungan dengan inflamasi akut
    1. Telah dikaji tingkat nyeri yang dirasakan pasien
    2. Telah dikaji mekanisme koping pasien dan keluarga
    3. Telah di ajarkan pasien untuk menggunakan teknik relaksasi nafas dalam
    4. Talah diberikan kompres hangat pada pasien
    5. Telah didiskusikan dengan tim kesehatan lain terkait pemberian obat analgesik
    6. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan diare yang dialami pasien
      1. Telah dikaji  tanda-tanda vital pasien
      2. Telah dilakukan pemantauan haluaran urine setiap hari
      3. Telah diberikan cairan melalui IV pasien
      4. Telah diajarkan pasien untuk banyak minum air putih
      5. Telah dilibatkan keluarga dalam melakukan intervensi pada pasien
      6. Risiko tinggi kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penumpukan garam empedu di bawah kulit
        1. Telah di evaluasi frekuensi pernafasan dan kedalaman
          Auskultasi bunyi nafas.
        2. Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi duduk tinggi atau semi fowler.
        3. Telah diajarkan teknik pernapasan pada pasien
        4. Telah dikaji respon pernapasan
        5. Telah diberikan tambahan oksigen.

 

 

4.5 Evaluasi

 

D.x

Tindakan

Evaluasi

Nama Perawat/Mhs

1

 

 

 

 

1

S    : data subjektif pasien

O   : data objektif klien (dari hasil pengamatan perawat)

A    : menganalisa data subjektif dan objektif

P     : merumuskan rencana tindakan selanjutnya

 

 

pan �}Cl=���count:1′>

 

  1. Anechoic
  2. Tidak ada echo yang dihasilkan, terlihat warna hitam pada hasil scan
  3. Hal ini menunjukkan complete transmission dari suara, contoh cairan
  4. Sedangkan kehadiran suatu partikulat di dalam cairan akan menyebabkan terbentuknya echo

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3. PENUTUP

 

3.1    Kesimpulan

     Ultrasonography adalah salah satu dari produk teknologi medical imaging yang merupakan suatu teknik untuk mencitrakan bagian dalam organ atau suatu jaringan sel (tissue) pada tubuh, tanpa membuat sayatan atau luka (noninvasive). Ultrasonografi (USG) bekerja dengan prinsip gelombang suara unltrasonik dengan frekuensi 1 – 10 MHz (1–10 juta Hz ). USG terdiri dari beberapa komponen sehingga dapat menampilkan suatu jaringan yang dilaluinya dalam bentuk gambar mrlalui monitor. USG digunakan untuk terapi dan mentukan diagnostik yang tepat terhadap penyakit yang diderita oleh pasien.

 

3.2 Saran

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bone, E. 2001. Bioteknologi dan Bioetika. Kanisius. Yogyakarta.

Rasad, Sjahriar. 2005. Toraks. Dalam: Radiologi Diagnostik.  Edisi Kedua. Fakultas Kesehatan Universitas Indonesia

Suririnah. 2008. Buku Pintar Kehamilan dan Persalinan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Sastrawinata, Sulaiman. 2004. Ilmu Kesehatan Reproduksi: Obstetri Patologi. Jakarta: EGC

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: